Wednesday, October 21, 2015

Pillowtalk #3: The Hardest Truth

moon, sea, and night image

Ketika aku melamun, -- yang hampir aku lakukan setiap harinya entah itu pagi sebangunku dari tidur, siang saat aku sedang beraktifitas, ataupun malam saat aku hendak pergi menjemput mimpi -- di saat itulah aku melihat sekelebat bayanganmu, aku, dan kita. Bahkan terkadang lamunanku tidak mengenal situasi dan kondisi, saat berkendara dan ujian pun rasanya kaset perekam yang memutar semua hal tentang kamu, berjalan terus tak berhenti.

Aku melihat semuanya. Mulai dari pertemuan, perjalanan, hingga... perpisahan kita.

Sebenarnya aku bukan seorang yang pandai mengatakan langsung tentang perasaanku dengan gamblang, spontan, di depan hadapan orang sekalipun itu kamu, orang yang telah aku kenal bertahun-tahun sebelumnya. Bukan karena aku tidak berani, tetapi aku tidak tahu harus memulai dari mana, mengatakan hal yang bagaimana, atau dengan nada bicara seperti apa yang nantinya akan aku sampaikan kepadamu. Iya... Aku tidak sampai hati. Kalau memang aku sampai hati mengatakannya, mungkin 'penguntit'ku berusaha untuk memancing-mancing perasaanku agar bisa sampai kepadamu. Tapi nyatanya? Aku sering tidak sampai hati mengungkapkannya. 

Berkali-kali aku 'mencuri' kesempatan untuk melihatmu hingga memikirkanmu. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Mungkin aku telah berdosa melakukan hal ini, namun nyatanya aku tidak perduli. Apakah aku egois? Ataukah aku jahat? Mungkin, label-label itu akan melekat padaku seiring dengan mereka mengetahui ceritaku namun tidak dengan alasan di balik cerita tadi. Sempat aku menangis tersengguk hanya karena ada label yang diberikan oleh seseorang dan ia menyebutnya hampir berkali-kali, secara sengaja atau tidak. Hanya karena.... Benar, itu hanya karena aku berani mengambil cara itu. Hingga pada akhirnya, hal yang aku lakukan tadi, yaitu mencuri berbagai kesempatan yang bisa aku curi, justru melukai diriku sendiri secara perlahan. Barang kali aku punya banyak nyawa setelah nekat menerjang hal yang seharusnya tidak aku terjang. Dan... yah, aku lebih memilih untuk memikirkanmu saja, dibandingkan dengan melihatmu yang justru membuatku melukis luka di atas lukaku sebelumnya, sendiri.

Setiap kali aku jauh dari kamu, aku memutar semua kaset simpananku tentang kamu, berulang kali. Dari satu kenangan menuju ke kenangan yang lain, dari luka hingga tawa, dari tempat satu meloncat ke tempat yang lain, dari satu waktu menuju ke waktu yang lain. Serasa aku sedang menunggangi roller coaster, sesaat aku bahagia - di saat itu juga aku merasa sedih, sedih yang nggak bisa dijelasin sedihnya seperti apa bahkan menangis pun, rasanya air mataku telah kering. Hanya terasa kalau dada ini sesak dengan semua kenangan tentang kamu, aku, dan kita. 
quote, sad, and cry image
Jauh dari kamu.... Tidak membuatku patah semangat melawan pedihnya rindu. Kalau aku berkata padamu, 'tahukah kamu bagaimana rasanya sakit ini? rasanya perih ini? rasanya perasaan ini?', mungkin aku terlalu mengguruimu yang telah dan pernah merasakan sakit ini jauh sebelum aku pernah merasakannya, oleh karena itu aku lebih memilih diam dan tersenyum. Anggap saja senyumanku, seperti katamu, "Akhir-akhir ini sering terlihat eclipse, sayang. Apakah kau tidak melihatnya? Sekarang, malam ini, pun eclipse itu terlihat. Coba lihat! Apalagi siang tadi, sayang... Sepertinya aku melihat senyuman indah seorang perempuan yang mirip sekali dengan eclipse. Senyuman itu persis berada di depanku. Iya, itu senyuman punya kamu. :)" seindah eclipse akhir-akhir ini. Aku hanya bisa tersenyum walaupun aku tidak mampu, walaupun air mata ingin mendobrak keluar, walaupun aku harus melawan, tapi pada akhirnya aku harus tersenyum. Aku menganggap, bahwa itu salah satu kelebihan semua perempuan, terlebih lagi aku, bahwa smile is the best make up that every girl has.

Saat aku bertemu kamu... Oh, ini adalah bagian yang paling aku sukai dari bagian-bagian pedih sebelumnya. Bagaimana tidak, aku melihatmu -orang yang selalu aku..... (maybe you can insert any word that matches with this sentence)- berdiri di depanku membawa senyuman dan hal-hal lain yang membuatku selalu jatuh cinta setiap detiknya. Di sampingmu, di depanmu, ataupun di belakangmu, aku selalu menyempatkan diri untuk mencuri pandang melihatmu sekalipun kamu sibuk dengan hal-hal lainnya. Aku selalu mengambil kesempatan yang aku punya untuk melihatmu hingga tersenyum bahkan terkekeh sendiri. Biarlah aku berdosa mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini dengan berkali-kali menatap lekat-lekat hingga tak terasa mataku telah berkedip entah berapa kali saat melihatmu. Aku tidak tahu, apakah Tuhan sengaja untuk membuatku bertahan dengan tingkahku yang tidak sekali dua kali seperti ini, mencuri-curi pandang melihatmu.
night, boy, and moon image
Aku heran, mengapa aku harus bertingkah seperti ini. Antara dungu dan egois, rasanya menjadi satu. Serasa aku ini berada dalam sebuah medan perang di mana kata hati dan kata otak sedang berduel sengit di medan tempur ini. Apakah aku tahu yang menang siapa? Tidak. Sesekali pihak kata hati memenangkan pertempuran itu dengan sengit, sesekali kata otak-lah yang menang. 

Bagaimana jika... 
Iya, bagaimana jika aku ingin bertahan bersamamu lebih lama? Tapi aku takut... Oh, demi apa aku harus mengucapkan kata takut setelah aku berani nekat menerjang maut hanya untukmu? Mungkin aku terlalu takut jika aku hanya bisa mengamatimu saja tanpa aku tahu harus apa dan bagaimana dengan keadaan ini, yang notabene telah berjalan selamaaaaaa...... ini. Ketidakberanianku memunculkan perasaan 'diam-diam' terhadapmu. Antara rela dan tidak rela sebenarnya jika aku harus menguji perasaanku untuk tahan banting pada 'ujian militer' seperti ini. Rasanya gelisah, bahagia, semuanya bercampur aduk menjadi satu. 

Saat aku beranjak pergi... Aku tidak ingin. Jujur, hal itu adalah hal yang paling tidak aku ingini untuk aku lakukan. Aku hanya ingin tinggal, seperti perasaan kita selama ini, bukan malah pergi, ataupun berpisah. Tapi nyatanya, waktuku telah memanggilku dan waktumu telah mengusirku untuk pergi meninggalkan perasaan yang belum sempat aku pupuk agar bisa tumbuh menjadi taman yang indah. Ternyata... Kediam-diaman yang aku buat, telah mengusik pikiranku hampir setiap waktu aku melamun, ya? 

No comments:

Post a Comment