Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Sunday, March 3, 2019

Terhambat dan Tamat

Aku melihat setiap layar ponsel yang menyala, memunculkan notifikasi, aku selalu berharap itu datang darimu. 
Nada dering yang keluar dari ponsel pun, aku mengira itu adalah pemberitahuan darimu. Aku selalu melihat ponsel meskipun layar dalam keadaan mati. Bahkan kulakukan hingga kepalaku terasa pusing. 
Degup jantungku selalu kencang ketika layar itu menyala karena aku beranggapan bahwa itu datang darimu. 
Tapi setelah aku sadari, itu dulu. 
Dulu, selalu ada kabar darimu, pesan maupun panggilan. Meskipun jauh, aku selalu merasa dekat. Tapi semakin ke sini, lambat laun, aku seperti sendiri. 
Kamu jarang datang lagi, tidak lagi memberi kabar, bahkan memintaku untuk mandiri dengan tidak bergantung dan mengusikmu karena.... semua punya kesibukan masing-masing, bahkan kamu merasa aku selama ini adalah penghambatmu. Ketika kata-kata itu keluar dari pikiranmu dan kau salurkan lewat jemarimu, aku tidak menyangka bahwa.... seburuk itu ya ternyata aku di matamu.

Aku mulai berjalan sendiri. 
Berhenti perlahan-lahan memintamu memberi kabar atau mengurangi menghubungimu.
Pergi pun aku tidak pernah lagi ingin ijin karena tidak begitu penting buatmu, kurasa. 
Kamu benci melihatku pergi sendiri, tetapi ketika aku meminta padamu untuk menemaniku, jawabmu hampir selalu sibuk dan enggan karena ribet. 
Banyak cerita yang ingin kubagikan, tapi aku selalu menahan karena kamu yang banyak pikiran, sibuk, mengantuk, dan aku hanya bisa menyimpannya sendiri dan tersenyum di hadapanmu. 
Perlahan, aku mulai menyadari bahwa aku mulai harus berhenti berlaku manja dan bersiap melakukan semua sendiri seperti biasanya. 
Aku tidak pernah menggantungkan diriku kepada siapapun jika memang aku bisa melakukan semua sendiri. 
Dan aku ingin menggantungkan sedikit diriku kepada orang yang kurasa, memang paling dekat denganku, saat ini. 
Ternyata, aku salah.
Seharusnya, aku memang tetap tidak perlu merepotkan orang lain.
Aku kira, kamu sangat senang ketika aku meminta tolong atau apapun itu kepadamu karena, someone said that, "Ketika kamu ingin dianggap, gantungkanlah dirimu ke orang lain dengan meminta tolong ataupun bercerita."
Tapi kamu begitu siap dan rela melepasku melakukan semuanya sendirian tanpa ingin dilibatkan. 
Baik, aku tidak akan memaksakan apapun terlalu jauh untukmu. 


Berkembanglah tanpa terhambat. 
Semua yang tersumbat dan terlambat, mungkin mengantarkan kita kepada tamat. Sayangnya aku memang terlalu sayang, teramat sangat. 
Cepat atau lambat, semua akan kembali dengan cepat. 
Mungkin saja di tangan yang tepat.
No more mornings and nights.
But prayers will hold you tight.




Based on real story

Saturday, February 23, 2019

Mungkinkah Kamu akan Pulang?

Kapan kamu berniat untuk pulang? Ketika aku selalu di sini menunggu kamu untuk pulang, kamu tak kunjung datang. Padahal pintu sudah aku pastikan tidak terkunci, jadi ketika kamu tiba-tiba saja masuk, kamu tidak perlu marah karena pintunya sudah aku kunci. Tapi ternyata kamu juga tak kunjung pulang. Meskipun aku lihat dari balik tirai jendela yang bersebelahan dengan pintu, bayangmu tidak kunjung terlihat dari jarak pandang mataku. Ponsel yang biasanya tertahan mati dan sepi untukku, kini sudah tidak bisa aku jangkau lagi. Apakah sinyal ponselmu tidak ada? Apakah ponselku yang saat ini rusak? Kupastikan berkali-kali bahwa ponselku baik-baik saja dengan me-restart-nya, namun ternyata memang benar, kamu tidak ada di balik layar ini lagi. Kamu kemana?

Sudah sekian lama, kamu tidak kunjung kembali. Aku hanya bisa duduk di depan teras rumah ketika sedang senggang hanya untuk menantimu pulang. Memastikan ketika kamu menginjakan kaki di pelataran rumah, kamu telah disambut olehku. Memastikan aku bisa membawakan barang yang terpaut di lenganmu, bahumu, atau yang sedang kamu genggam saat itu. Memastikan bahwa, lelah yang kamu bawa pulang, akan hilang sebagian karena melihatku. Memastikan, bahwa kamu memang pulang. Pulang ke rumah ini.

Nyatanya saat kutunggu, dari detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, minggu, berganti bulan.... Kamu belum kunjung kembali. Senyum semangat ketika menantikan kehadiranmu, berganti senyum semu yang tetap berharap bahwa kamu akan kembali pulang nantinya. Iya, suatu saat nanti yang aku tidak tahu kapan akan terjadi. Senyuman yang harusnya membawa ke air mata bahagia, namun harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa berkali-kali, air mata kesedihanlah yang justru turun dari mataku yang terus melihat kehadiranmu dari kejauhan yang tidak kunjung terjadi. Bahkan terkadang, potret dirimu dan aku yang sedang bersanding, seringkali kujadikan bayangan kamu yang sedang melangkah maju mendekati rumah. Kekonyolan tadi membawaku pada tetes-tetes air mata dengan diiringi jeritan tanpa suara. Suara yang harusnya kukeluarkan untuk menyambutmu, kini tertahan. Tidak di dunia, di ponselmu pun... aku tidak bisa mengeluarkan suara.

Mungkin, memang kamu tidak akan kembali lagi. Mungkin, yang kulihat selama ini kembali hanyalah kenangan saat kamu dan aku masih bersama.

Wednesday, May 30, 2018

Memilih untuk Bertahan

Dihadapkan pada beberapa banyak opsi untuk dipilih, aku tidak begitu pintar menentukan satu di antaranya. Banyak konsekuensi, banyak risiko, dan banyak pula yang harus dikorbankan. Hidup selalu tentang berjalan pada titian pilihan yang membawa satu per satu pelajaran, wajah, situasi, dan banyak hal lain yang akan ditemui nantinya. Di situlah aku yang akhirnya berhadapan dengan jalan bercabang dan cabangnya begitu banyak. Setiap cabang tidak berbentuk jalanan lurus ataupun berkelok, namun setiap cabangnya membawa petunjuk masing-masing. Tahukah kau, bahwa hal ini adalah hal yang cukup sulit untukku lakukan. Aku berharap kau tahu dan tidak hanya diam saja karena aku sedang mencoba memberitahukanmu.
Otakku mencoba untuk melakukan proses mencerna setiap petunjuk yang tertera. Aku mengaduk-aduk memori seperti sup hangat yang enggan untuk kumakan karena memang sedang tidak nafsu. Coba saja kau duduk di hadapanku untuk menyuapkan sup hangat tersebut. Mungkin rasa dari sendokan tersebut akan terasa berbeda dibandingkan dengan saat kumenyantapnya sendiri. Sayangnya kau sedang tidak berada di hadapanku, kau berlarian entah kemana, aku tak tahu. Aku berusaha untuk menolak memori yang menyedihkan seperti saat aku menolak untuk menyuapkan sup tadi ke dalam mulutku, tapi aku tidak bisa, karena aku harus. Iya, karena aku butuh. Aku butuh memori itu untuk melanjutkan kita, seperti aku butuh sendokan sup tadi agar aku bisa tetap meneruskan kegiatan tanpa harus merasakan kelaparan.

Setiap memori yang kucoba panggil, aku menemui sedih, tawa, air mata, bahkan luka. Aku takut sayang, aku benar-benar takut. Tahukah kau akan hal itu? Oh, ayolah, kita bukan arena bermain yang selalu kau mainkan ketika sedang bosan dan akan kau tinggalkan ketika kau semakin bosan. Aku terkadang merasa berjalan sendiri tanpa ada kau di sebelahku. Setiap malam aku hampir menangisimu hanya karena aku rindu dan tentunya aku takut. Salahkah? Aku ingin meminta maaf apabila memang itu salah di matamu tapi bagiku, aku tidak salah. Kau tahu kan kadang manusia memang egois dan aku rasa, saat ini aku sedang egois untuk memilikimu.

363e43943787d069e67f49314325949d.jpg 250×500 pixels

Itu dia! Aku sudah menemukan jawabannya. Aku telah menelusuri setiap kepingan petunjuk di tiap-tiap cabang jalan yang menghadangku untuk menggapaimu dan aku menemukan hasil dari kepingan petunjuk yang telah kucoba untuk kususun. Asal kau tahu, aku melakukan semuanya tanpa bantuanmu karena kau saat itu sedang pergi meninggalkanku untuk belajar sendiri, memilih sendiri jalan mana yang harus kulalui, dan pastinya untuk mandiri di kehidupan yang (kau bilang) cukup keras ini, bukan begitu? 

Aku telah sampai! Aku telah menemukanmu untuk kuajak berjalan kembali. Aku.... Ah! Sial! Aku menangis kembali, sayang. Patutkah aku meminta maaf karena aku telah menjadi seorang yang cengeng? Mungkin itu harus kulakukan karena aku masih memilihmu, aku masih memilih untuk bertahan pada kita. Ya.... meskipun kau tidak pernah suka ketika aku harus meminta maaf berulang kali tapi bagiku, tak apa. Kali ini, kau mau berjalan kembali denganku? Gandeng tanganku sekarang juga! Iya, sekarang juga, kau yang keras kepala! 

Aku tidak tahu sudah berapa banyak kalimat menyerah telah aku ucapkan sampai-sampai kau bosan dibuatnya. Tapi kali ini aku memilih untuk bertahan, sama seperti yang kau lakukan selama ini, iya bukan? Hei, mungkin aku sudah gila untuk bertahan tapi, jelas itu karena kau yang membuatku gila.

Sunday, May 27, 2018

Hanya Iseng, Awalnya

Ah.... Aku rindu... Kamu ada dimana ya? Hm.... Kali ini aku ditemani dengan hembusan angin pendingin ruangan serta alunan lagu. Seharusnya aku ditemani kamu. Iya, seharusnya. 


Bertemu kamu, mungkin tidak pernah terlintas dalam radar pikiranku karena... saat itu memang aku sedang tidak berniatan untuk mengenal siapa-siapa dan yang aku lakukan hanya menjelajah iseng untuk membuka hati dan bertemu dengan nama serta wajah baru. Wah, mungkin mengenal kamu adalah sebuah kebetulan? Bisa saja karena kata orang, "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Baiklah... Aku akan memercayai perkataan kebanyakan orang. 

Kamu itu abstrak. Aku tidak bisa merabamu, mengendus bau tubuhmu, melihat bola matamu, dan tidak dapat menyelam menikmati indahnya dasar dalam jiwamu karena yang aku tahu kau hanyalah sebuah nama beserta suara. Itu sebelum aku menemuimu, jauh sebelum aku tahu bahwa ternyata kamu jauh lebih dari sebuah nama dan suara yang selama ini aku tahu. Selama nama dan suara itu kerap kali ada untuk menemaniku, aku belajar bahwa ada kehidupan di belahan layar sana yang sedang riuh lalu-lalang, bising, dan juga sama berdebunya seperti kehidupan yang sedang aku jalani.

Terlalu panjang untuk dipersingkat namun dari kamu, aku tidak sedang mempelajari 'pernah' yang aku alami selama ini. Aku pernah melihat pelangi setelah hujan, tertawa setelah menangis, merindu kembali setelah berpisah, merasakan amarah setelah beberapa kali 'ditampar'. Tapi, apakah bersamamu disebut pengulangan kisah-kisah yang telah lalu? Tentu tidak. Setiap insan berbeda, kamu sangat berbeda. Kamu membuatku ingin terus belajar hal baru dan tidak mengulang hal yang pernah aku pelajari sebelumnya. Mungkin kamu tidak mengerti atau mungkin saja kamu mengerti tapi tidak ingin untuk berkata "Iya, aku sebenarnya mengerti." Terima kasih untuk semua hal yang telah kamu ajarkan dalam hubungan ini. Semakin hari, aku semakin tidak sabar untuk menemuimu dan belajar banyak hal kepada kamu.