From outer space you came
Walking through my door and looking for something
And I say, "Are you OK? Because you are not."
But you don't say a word
You stayed, look at me
"Mind to stay for a while?"
And you nod your head
You learnt a lot
Blinked a lot
Spoke a lot
And I need you, a lot
I knew you're playing
'cause I've been there before
I knew you're lying
Because your eyes told me that
Well, O...
Comfort me with lies
'cause I knew the truths you're hiding
Stay a little longer....
Or maybe, forever?
Showing posts with label Wrote by Me. Show all posts
Showing posts with label Wrote by Me. Show all posts
Sunday, May 24, 2020
Meaning
I'm searching for meaning
Meaning how to love others
Meaning how to live peacefully
Meaning how to be a human, totally human
I've been lost
And have no meaning to live
Full of tears and rains
Hiding
Letting someone goes
And making myself broke
Pieces to pieces
And making myself broke
Pieces to pieces
Saturday, December 7, 2019
Seen
I’ve seen you smiled
I’ve seen you laughed
You cried
You’re angry
You shouted
You yelled
You're happy
I have seen all of your emotions
I have seen you loved me The way you looked at me The way you treated me From one day you were really loved me and afraid if I was slipped away To one day you didn’t love me at all
I have seen you treated me good,
treated me bad,
loved me so bad,
and cheated on me,
said you didn't love me,
then broke me up
I have seen you from you were skinny until you think you’re fat. But I didn’t mind at all. I still loved you, through whatever happened between us.
From tears to tears From kisses to kisses From miles away until we’re this close I still looked at you like our first met
But now I know, Whatever I did Never brings you back I hope you find what you’ve been searching for I hope you could love them as much as they love you And I hope they could bring you happy tears like what I did to you once upon a time
I have seen you loved me The way you looked at me The way you treated me From one day you were really loved me and afraid if I was slipped away To one day you didn’t love me at all
I have seen you treated me good,
treated me bad,
loved me so bad,
and cheated on me,
said you didn't love me,
then broke me up
I have seen you from you were skinny until you think you’re fat. But I didn’t mind at all. I still loved you, through whatever happened between us.
From tears to tears From kisses to kisses From miles away until we’re this close I still looked at you like our first met
But now I know, Whatever I did Never brings you back I hope you find what you’ve been searching for I hope you could love them as much as they love you And I hope they could bring you happy tears like what I did to you once upon a time
Sunday, November 24, 2019
Just One Thing
If I could tell you one thing
One thing that never gets old
One thing that I always hold
One thing that alwas be gold
Maybe you’d never understand
Maybe it couldn’t make you here to stand
Maybe it don’t tremble your hand
Maybe it’s just a thing that you will try to forget the existence
I know
I know it for sure
You never be here
You never stay and give something to fix the pain
You never look me in the eye like what you did again
But the one thing that I will say
I love you everyday
Whatever you go through day
Whoever you look for day by day
Whenever you stay busy all day
Even you’re not stay
I put you on my pray
Even though you love other people then yell at me to me to stay away
I’m still hoping you would come again and hug me ‘til my pain goes away
And I miss you that I know that it’s not okay
One thing that never gets old
One thing that I always hold
One thing that alwas be gold
Maybe you’d never understand
Maybe it couldn’t make you here to stand
Maybe it don’t tremble your hand
Maybe it’s just a thing that you will try to forget the existence
I know
I know it for sure
You never be here
You never stay and give something to fix the pain
You never look me in the eye like what you did again
But the one thing that I will say
I love you everyday
Whatever you go through day
Whoever you look for day by day
Whenever you stay busy all day
Even you’re not stay
I put you on my pray
Even though you love other people then yell at me to me to stay away
I’m still hoping you would come again and hug me ‘til my pain goes away
And I miss you that I know that it’s not okay
Monday, November 4, 2019
Kebiasaan yang Hilang
Sesuatu yang paling sering aku temui setiap malam adalah aku merindukan kebiasaan mengobrol denganmu setiap akan tidur. Membicarakan apapun, mulai dari semut yang memenangkan pertandingan dan mengalahkan gajah hingga apakah nantinya akan ada neraka atau surga setelah kita meninggalkan dunia. Tidak tertebak arah pembicaraan kita, bahkan tidak tertebak juga berapa lama waktu yang kita habiskan di balik sambungan telepon karena yang aku tahu, aku selalu senang mengetahui aku dapat membuatmu tertidur dengan perbincangan yang aku buat sendiri sebagai pengantar tidurmu. Kadang aku hanya meracau tanpa arah dan kamu membenci itu. Lalu aku mengalihkan ke topik lain yang entahlah, aku juga tidak mengerti dari mana ide untuk membicarakan topik tersebut melintas dan keluar melewati mulutku. Saat aku tidak mendengarkan suaramu untuk menghentikanku, aku tahu di situ kamu sudah tertidur. Aku tersenyum di balik sambungan telepon. Bahkan tidak jarang aku mengucapkan lirih bahwa aku mencintaimu, selalu. Tidak berhenti di situ, aku selalu menyampaikan bahwa aku beruntung menjalin hubungan denganmu dan tidak pernah sabar untuk bertemu denganmu.
"Jangan berubah ya, sayang. Aku tahu kalau kamu nggak denger aku tapi aku yakin, alam bawah sadarmu denger aku. Aku kangen nih... Jangan nakal, ya. I love you hihihi."
Hari berikutnya, aku kembali menyadari bahwa ada yang hilang setelah kebiasaan berbincang sebelum tidur, yakni ketukan pintumu di setiap pagi untuk menyapaku. Aku masih ingat betapa dulu kamu sangat bersikeras ingin aku mengetuk pintu setiap pagi bahkan ketika aku tidak mengucapkannya, kamu selalu marah. Entah kenapa, setiap mengingatnya terasa sesak meskipun sedikit memberikan senyuman tipis di bibirku. Ketika aku menyadari bahwa mengucapkan selamat pagi kepadamu mulai menjadi gangguan, aku selalu menunggu kehadiranmu terlebih dahulu, entah itu hanya untuk menanyakan sudah makan, meminta untuk diingatkan membawa ini dan itu, ataupun hanya sekedar mengeluh bahwa harinya berat ataupun sebaliknya dan tentunya, aku mulai mengurangi intensitas mengetuk pintu hingga akhirnya, aku benar-benar berhenti melakukannya. Dalam hitungan detik, menit, jam, hari, hingga minggu, aku kehilangan balasan darimu. Perlahan kamu menghilang dan menyisakan kenangan yang terlalu pahit untuk diingat. Kalaupun aku berkata aku kuat, ya aku memang kuat. Tapi aku hanya berbohong, mengelabui air mata yang turun deras menyambut begitu banyak kenangan yang terlintas di dalam ingatan. Ketika seseorang membutuhkan pelukan dari seseorang untuk menguatkan, ketika memelukmu, aku hanya berharap rapuh ini bisa kembali utuh namun sayangnya, isakku terlalu kuat, dadaku terlalu sesak, cengkeramanku terlalu lemah hingga aku tidak bisa membuatmu kembali.
Aku lemah, bukan berarti aku kalah
Pergi bukan berarti aku tidak sedih
Namun bertahan tidak memberikan jalan keluar yang sepadan
Seandainya kamu masih ingat untuk tidak melihat rumput tetangga, katamu
Aku berhenti melihatnya dan belajar menanam tumbuhan di taman sendiri
Tetapi justru kamu yang merusaknya dan membiarkan aku menanam sendiri
Aku kira kamu benar adanya tentang perasaan yang kamu punya
Tetapi aku salah
If I'm honest, I'd call, but I'm trying to let go
And I hope you're happy, livin' life in taxis
Sunday, March 3, 2019
Terhambat dan Tamat
Aku melihat setiap layar ponsel yang menyala, memunculkan notifikasi, aku selalu berharap itu datang darimu.
Nada dering yang keluar dari ponsel pun, aku mengira itu adalah pemberitahuan darimu. Aku selalu melihat ponsel meskipun layar dalam keadaan mati. Bahkan kulakukan hingga kepalaku terasa pusing.
Degup jantungku selalu kencang ketika layar itu menyala karena aku beranggapan bahwa itu datang darimu.
Tapi setelah aku sadari, itu dulu.
Dulu, selalu ada kabar darimu, pesan maupun panggilan. Meskipun jauh, aku selalu merasa dekat. Tapi semakin ke sini, lambat laun, aku seperti sendiri.
Kamu jarang datang lagi, tidak lagi memberi kabar, bahkan memintaku untuk mandiri dengan tidak bergantung dan mengusikmu karena.... semua punya kesibukan masing-masing, bahkan kamu merasa aku selama ini adalah penghambatmu. Ketika kata-kata itu keluar dari pikiranmu dan kau salurkan lewat jemarimu, aku tidak menyangka bahwa.... seburuk itu ya ternyata aku di matamu.
Aku mulai berjalan sendiri.
Berhenti perlahan-lahan memintamu memberi kabar atau mengurangi menghubungimu.
Pergi pun aku tidak pernah lagi ingin ijin karena tidak begitu penting buatmu, kurasa.
Kamu benci melihatku pergi sendiri, tetapi ketika aku meminta padamu untuk menemaniku, jawabmu hampir selalu sibuk dan enggan karena ribet.
Banyak cerita yang ingin kubagikan, tapi aku selalu menahan karena kamu yang banyak pikiran, sibuk, mengantuk, dan aku hanya bisa menyimpannya sendiri dan tersenyum di hadapanmu.
Perlahan, aku mulai menyadari bahwa aku mulai harus berhenti berlaku manja dan bersiap melakukan semua sendiri seperti biasanya.
Aku tidak pernah menggantungkan diriku kepada siapapun jika memang aku bisa melakukan semua sendiri.
Dan aku ingin menggantungkan sedikit diriku kepada orang yang kurasa, memang paling dekat denganku, saat ini.
Ternyata, aku salah.
Seharusnya, aku memang tetap tidak perlu merepotkan orang lain.
Aku kira, kamu sangat senang ketika aku meminta tolong atau apapun itu kepadamu karena, someone said that, "Ketika kamu ingin dianggap, gantungkanlah dirimu ke orang lain dengan meminta tolong ataupun bercerita."
Tapi kamu begitu siap dan rela melepasku melakukan semuanya sendirian tanpa ingin dilibatkan.
Baik, aku tidak akan memaksakan apapun terlalu jauh untukmu.
Nada dering yang keluar dari ponsel pun, aku mengira itu adalah pemberitahuan darimu. Aku selalu melihat ponsel meskipun layar dalam keadaan mati. Bahkan kulakukan hingga kepalaku terasa pusing.
Degup jantungku selalu kencang ketika layar itu menyala karena aku beranggapan bahwa itu datang darimu.
Tapi setelah aku sadari, itu dulu.
Dulu, selalu ada kabar darimu, pesan maupun panggilan. Meskipun jauh, aku selalu merasa dekat. Tapi semakin ke sini, lambat laun, aku seperti sendiri.
Kamu jarang datang lagi, tidak lagi memberi kabar, bahkan memintaku untuk mandiri dengan tidak bergantung dan mengusikmu karena.... semua punya kesibukan masing-masing, bahkan kamu merasa aku selama ini adalah penghambatmu. Ketika kata-kata itu keluar dari pikiranmu dan kau salurkan lewat jemarimu, aku tidak menyangka bahwa.... seburuk itu ya ternyata aku di matamu.
Aku mulai berjalan sendiri.
Berhenti perlahan-lahan memintamu memberi kabar atau mengurangi menghubungimu.
Pergi pun aku tidak pernah lagi ingin ijin karena tidak begitu penting buatmu, kurasa.
Kamu benci melihatku pergi sendiri, tetapi ketika aku meminta padamu untuk menemaniku, jawabmu hampir selalu sibuk dan enggan karena ribet.
Banyak cerita yang ingin kubagikan, tapi aku selalu menahan karena kamu yang banyak pikiran, sibuk, mengantuk, dan aku hanya bisa menyimpannya sendiri dan tersenyum di hadapanmu.
Perlahan, aku mulai menyadari bahwa aku mulai harus berhenti berlaku manja dan bersiap melakukan semua sendiri seperti biasanya.
Aku tidak pernah menggantungkan diriku kepada siapapun jika memang aku bisa melakukan semua sendiri.
Dan aku ingin menggantungkan sedikit diriku kepada orang yang kurasa, memang paling dekat denganku, saat ini.
Ternyata, aku salah.
Seharusnya, aku memang tetap tidak perlu merepotkan orang lain.
Aku kira, kamu sangat senang ketika aku meminta tolong atau apapun itu kepadamu karena, someone said that, "Ketika kamu ingin dianggap, gantungkanlah dirimu ke orang lain dengan meminta tolong ataupun bercerita."
Tapi kamu begitu siap dan rela melepasku melakukan semuanya sendirian tanpa ingin dilibatkan.
Baik, aku tidak akan memaksakan apapun terlalu jauh untukmu.
Berkembanglah tanpa terhambat.
Semua yang tersumbat dan terlambat, mungkin mengantarkan kita kepada tamat. Sayangnya aku memang terlalu sayang, teramat sangat.
Cepat atau lambat, semua akan kembali dengan cepat.
Mungkin saja di tangan yang tepat.
No more mornings and nights.
But prayers will hold you tight.
No more mornings and nights.
But prayers will hold you tight.
Based on real story
Saturday, February 23, 2019
Mungkinkah Kamu akan Pulang?
Kapan kamu berniat untuk pulang? Ketika aku selalu di sini menunggu kamu untuk pulang, kamu tak kunjung datang. Padahal pintu sudah aku pastikan tidak terkunci, jadi ketika kamu tiba-tiba saja masuk, kamu tidak perlu marah karena pintunya sudah aku kunci. Tapi ternyata kamu juga tak kunjung pulang. Meskipun aku lihat dari balik tirai jendela yang bersebelahan dengan pintu, bayangmu tidak kunjung terlihat dari jarak pandang mataku. Ponsel yang biasanya tertahan mati dan sepi untukku, kini sudah tidak bisa aku jangkau lagi. Apakah sinyal ponselmu tidak ada? Apakah ponselku yang saat ini rusak? Kupastikan berkali-kali bahwa ponselku baik-baik saja dengan me-restart-nya, namun ternyata memang benar, kamu tidak ada di balik layar ini lagi. Kamu kemana?
Sudah sekian lama, kamu tidak kunjung kembali. Aku hanya bisa duduk di depan teras rumah ketika sedang senggang hanya untuk menantimu pulang. Memastikan ketika kamu menginjakan kaki di pelataran rumah, kamu telah disambut olehku. Memastikan aku bisa membawakan barang yang terpaut di lenganmu, bahumu, atau yang sedang kamu genggam saat itu. Memastikan bahwa, lelah yang kamu bawa pulang, akan hilang sebagian karena melihatku. Memastikan, bahwa kamu memang pulang. Pulang ke rumah ini.
Nyatanya saat kutunggu, dari detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, minggu, berganti bulan.... Kamu belum kunjung kembali. Senyum semangat ketika menantikan kehadiranmu, berganti senyum semu yang tetap berharap bahwa kamu akan kembali pulang nantinya. Iya, suatu saat nanti yang aku tidak tahu kapan akan terjadi. Senyuman yang harusnya membawa ke air mata bahagia, namun harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa berkali-kali, air mata kesedihanlah yang justru turun dari mataku yang terus melihat kehadiranmu dari kejauhan yang tidak kunjung terjadi. Bahkan terkadang, potret dirimu dan aku yang sedang bersanding, seringkali kujadikan bayangan kamu yang sedang melangkah maju mendekati rumah. Kekonyolan tadi membawaku pada tetes-tetes air mata dengan diiringi jeritan tanpa suara. Suara yang harusnya kukeluarkan untuk menyambutmu, kini tertahan. Tidak di dunia, di ponselmu pun... aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Mungkin, memang kamu tidak akan kembali lagi. Mungkin, yang kulihat selama ini kembali hanyalah kenangan saat kamu dan aku masih bersama.
Sudah sekian lama, kamu tidak kunjung kembali. Aku hanya bisa duduk di depan teras rumah ketika sedang senggang hanya untuk menantimu pulang. Memastikan ketika kamu menginjakan kaki di pelataran rumah, kamu telah disambut olehku. Memastikan aku bisa membawakan barang yang terpaut di lenganmu, bahumu, atau yang sedang kamu genggam saat itu. Memastikan bahwa, lelah yang kamu bawa pulang, akan hilang sebagian karena melihatku. Memastikan, bahwa kamu memang pulang. Pulang ke rumah ini.
Nyatanya saat kutunggu, dari detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, minggu, berganti bulan.... Kamu belum kunjung kembali. Senyum semangat ketika menantikan kehadiranmu, berganti senyum semu yang tetap berharap bahwa kamu akan kembali pulang nantinya. Iya, suatu saat nanti yang aku tidak tahu kapan akan terjadi. Senyuman yang harusnya membawa ke air mata bahagia, namun harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa berkali-kali, air mata kesedihanlah yang justru turun dari mataku yang terus melihat kehadiranmu dari kejauhan yang tidak kunjung terjadi. Bahkan terkadang, potret dirimu dan aku yang sedang bersanding, seringkali kujadikan bayangan kamu yang sedang melangkah maju mendekati rumah. Kekonyolan tadi membawaku pada tetes-tetes air mata dengan diiringi jeritan tanpa suara. Suara yang harusnya kukeluarkan untuk menyambutmu, kini tertahan. Tidak di dunia, di ponselmu pun... aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Mungkin, memang kamu tidak akan kembali lagi. Mungkin, yang kulihat selama ini kembali hanyalah kenangan saat kamu dan aku masih bersama.
Friday, February 22, 2019
Aku pernah melihat kamu dengan tatapan mata berbinar-binar. Terang tapi menghangatkan. Hatiku berdebar, perutku sakit seperti kebiasaan banyak orang merasakan nervous dan mendadak ada serangan perut. Lucu ya? Padahal aku sudah setua ini juga, ternyata masih saja merasakan yang seringkali anak-anak remaja rasakan. Sepertinya, memang cinta tidak mengenal usia. Begitu juga jarak usia yang terpaut antara kamu dan aku yang mengajarkan begitu besar makna sabar untuk menghadapi apapun, salah satunya kamu. Walaupun usia kita berdua tidak begitu terpaut jauh sekali, tapi banyak hal yang akhirnya aku pelajari, bahkan sampai detik aku menulis ini sekalipun.
Aku terhenti ketika menulis ini. Melihat jendela penghubung ruangan luar dan dalam ruang kerjaku. Menghela napas dan mencoba untuk memikirkan beberapa hal yang terlintas dan hilang begitu saja. Terlihat sosok dengan mata sayu di sana, terdiam, tersenyum, lalu menundukkan pandangannya. Itu refleksiku, bukan sih? Aku tertawa kecil melihatnya terdiam di hadapanku. Nampaknya.... Ada hal yang ia ingin katakan namun tidak bisa karena tertahan sesuatu yang begitu berat.
Mungkin memang benar, manusia bisa bergerak, dinamis, berubah. Pemikiran, perasaan, tingkah laku, bahkan perlakuan, even itu terhadap orang yang sudah ia kenal dari lama. Dan, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang tidak terpikirkan untuk terjadi, justru terjadi. Kaget, tercengang, dan tentunya jika itu perlakuan atau suatu yang negatif, aku kecewa. Benarkah hanya aku yang boleh kecewa terhadap semuanya yang kamu lakukan? Sepertinya tidak. Tentu kamu juga boleh merasakan kecewa seperti yang aku rasakan. Hanya saja.... Apa yang kamu ucapkan, yang kamu lakukan, tidak tertebak, menghantarkan aku menitikkan air mata. Kadang, tanpa kamu ketahui, air mata yang begitu deras membawaku meneriakkan kata-kata tanpa suara. Kadang seusainya, aku membuat diriku sendiri terlelap karena.... untuk menemuimu, menyelesaikan hal yang belum selesai, jarang pernah terjadi karena kamu seringkali menghindar.

Aku bertanya-tanya, seberapa banyak salah dan hal bodoh yang aku lakukan sehingga membuatmu seringkali mengucapkan hal-hal yang membuatku terheran-heran, seperti layaknya aku ini musuhmu, tidak kamu kenali. Tak jarang juga aku memikirkan perilakuku yang selalu melampaui batasmu dan maaf yang seringkali aku ucapkan. Tapi, dari mulutmu sendiri aku akhirnya banyak menyadari, mungkin kita memang sudah jalan di arah yang berbeda. Mungkinkah? Memang di balik sini, aku selalu saja merindukanmu, ingin bertemu, terlalu bucin, ingin bercerita banyak hal, tapi.... nampaknya berbenturan denganmu yang sibuk, ingin bebas, sendiri, tidak ingin terkekang. Then, I think I lost you in a good way.
Mataku selalu sayu melihatmu karena arah pandanganmu tidak lagi berbinar ketika melihatku, mungkin. Hahaha, jujur ketika aku memberikan pandangan sedih, aku hanya berharap kamu memanjakanku, entah dengan apapun itu perlakuan yang akan kamu berikan. Tapi, seringnya aku hanya mendapat sentakan-sentakan dan pada akhirnya aku hanya menggelayut manja tanpa kamu mengarahkan pandanganmu padaku.
Apakah pada akhirnya kita berdua harus saling merelakan?
Karena jujur saja, dengan kamu aku merasakan bahagia dan sedih, terlebih lagi aku sering memimpikan orang itu adalah kamu. Tapi, mungkin semuanya sudah berubah, ya?
Aku terhenti ketika menulis ini. Melihat jendela penghubung ruangan luar dan dalam ruang kerjaku. Menghela napas dan mencoba untuk memikirkan beberapa hal yang terlintas dan hilang begitu saja. Terlihat sosok dengan mata sayu di sana, terdiam, tersenyum, lalu menundukkan pandangannya. Itu refleksiku, bukan sih? Aku tertawa kecil melihatnya terdiam di hadapanku. Nampaknya.... Ada hal yang ia ingin katakan namun tidak bisa karena tertahan sesuatu yang begitu berat.
Mungkin memang benar, manusia bisa bergerak, dinamis, berubah. Pemikiran, perasaan, tingkah laku, bahkan perlakuan, even itu terhadap orang yang sudah ia kenal dari lama. Dan, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang tidak terpikirkan untuk terjadi, justru terjadi. Kaget, tercengang, dan tentunya jika itu perlakuan atau suatu yang negatif, aku kecewa. Benarkah hanya aku yang boleh kecewa terhadap semuanya yang kamu lakukan? Sepertinya tidak. Tentu kamu juga boleh merasakan kecewa seperti yang aku rasakan. Hanya saja.... Apa yang kamu ucapkan, yang kamu lakukan, tidak tertebak, menghantarkan aku menitikkan air mata. Kadang, tanpa kamu ketahui, air mata yang begitu deras membawaku meneriakkan kata-kata tanpa suara. Kadang seusainya, aku membuat diriku sendiri terlelap karena.... untuk menemuimu, menyelesaikan hal yang belum selesai, jarang pernah terjadi karena kamu seringkali menghindar.

Aku bertanya-tanya, seberapa banyak salah dan hal bodoh yang aku lakukan sehingga membuatmu seringkali mengucapkan hal-hal yang membuatku terheran-heran, seperti layaknya aku ini musuhmu, tidak kamu kenali. Tak jarang juga aku memikirkan perilakuku yang selalu melampaui batasmu dan maaf yang seringkali aku ucapkan. Tapi, dari mulutmu sendiri aku akhirnya banyak menyadari, mungkin kita memang sudah jalan di arah yang berbeda. Mungkinkah? Memang di balik sini, aku selalu saja merindukanmu, ingin bertemu, terlalu bucin, ingin bercerita banyak hal, tapi.... nampaknya berbenturan denganmu yang sibuk, ingin bebas, sendiri, tidak ingin terkekang. Then, I think I lost you in a good way.
Mataku selalu sayu melihatmu karena arah pandanganmu tidak lagi berbinar ketika melihatku, mungkin. Hahaha, jujur ketika aku memberikan pandangan sedih, aku hanya berharap kamu memanjakanku, entah dengan apapun itu perlakuan yang akan kamu berikan. Tapi, seringnya aku hanya mendapat sentakan-sentakan dan pada akhirnya aku hanya menggelayut manja tanpa kamu mengarahkan pandanganmu padaku.
Apakah pada akhirnya kita berdua harus saling merelakan?
Karena jujur saja, dengan kamu aku merasakan bahagia dan sedih, terlebih lagi aku sering memimpikan orang itu adalah kamu. Tapi, mungkin semuanya sudah berubah, ya?
Monday, October 8, 2018
Cemburu
Aku tidak pernah ingin untuk cemburu bahkan bisa dibilang aku sangat menolaknya. Aku benci dibuat pusing olehnya, olehmu. Jika aku bisa membuat beberapa permintaan, aku akan meminta untuk tidak mudah terpantik api cemburu terlebih lagi hal itu menyangkut dirimu, kau tahu kan bahwa aku tidak menyukainya? Aku sudah mengatakannya berulang kali kepadamu sepertinya. Apa kamu benar-benar menyimaknya ataukah hanya lewat dan bersentuhan saja dengan daun telingamu?
Ingin rasanya aku berteriak tanpa mengeluarkan suara karena aku merasa jengah. Jengah padamu? Oh tentu tidak. Aku hanya jengah kepada kenyataan bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mau marah, memangnya aku berhak? Mau menampar, memangnya aku siapa bisa main hakim sendiri? Atau mau memaki, wah.... sebegitu tidak tahu dirinya aku ini.
Kadang aku heran kenapa ada di luar sana orang tidak bisa merasakan cemburu. Lalu aku kembali berpikir lagi, apakah sebenarnya cemburu itu salah ataukah suatu hal yang manusiawi? Aku hanya bisa membisu karena aku tidak tahu apa-apa dan tidak tahu harus melakukan apa.
Friday, September 28, 2018
Berantakan

Aku menarik pelatuk di cerita kali ini. Biasanya sang lawan ikut menarik pelatuk juga, namun kali ini hanya aku dan senapanku yang mengambil andil di awal mula semuanya. S e m u a n y a . Bermula dari tidak sengaja berpapasan denganmu yang sorot matanya mengundang tanya dan perangaimu yang lekuknya tidak biasa, aku penasaran. Aku beri tanda di setiap titik kau berkeliaran, beristirahat, maupun berhenti. Ku siapkan saja senapan dan pelurunya. Hingga saatnya tepat, ini semua akan aku gunakan.
Aku amatir.
Mungkin karena itu, peluru yang aku tembakkan nyatanya meleset. Tidak berbekal tameng untuk melindungi, ia mendekat dan menghampiriku sembari tersenyum. Aku tidak menyangka bahwa justru ia menikamku dengan tangannya yang keras. Dan benar, semuanya pun berantakan. Aku tercerai berai, kau melihat dengan sorot mata yang tak kukenal sebelumnya dan menghilang bersamaan dengan angin yang datang. Entah kau menggunakan hal magis atau kau pintar bermain licik. Beriringan dengan kepergianmu, semua yang kau sentuh, berantakan.
Aku berani bertaruh, bahwa kau ini sebenarnya bukan orang biasa. Kau penuh dengan tanda tanya. Aku salah strategi. Awalnya yang kukira dengan menembakmu, aku bisa membawamu pulang untuk kujadikan teman, karena aku menembakmu dengan senapan bius, nyatanya.... Justru kau menyentuhku dan semuanya berantakan dalam hitungan detik. Benar-benar seperti tidak nyata semua ini. Apakah aku sedang berfantasi saja atau benar bahwa kau ini sosok nyata yang membuatku tersungkur begitu saja di tanah, bahkan sebelum berperang? Tidak ada yang tahu karena kau menghilang sebelum aku sempat bertanya,
"Mengapa sentuhmu membuat semuanya berantakan?"
Thursday, September 27, 2018
Rusak
Tidak, belum kau sentuh.
Sudah, ternyata semua kau rusak.
Terbalik, berbalik.
Kau, menari.
Aku, menangis
Wednesday, September 26, 2018
Sunday, September 23, 2018
Kukira
Kau kata hanya teman
Namun ternyata makin dekat saja gan
Kau kata tidak jatuh
Ternyata makin jauh
Kau bilang tidak akan
Ah... Mungkin itu hanya ucapan
Sementara, nyatanya kau akan berpacaran
Wednesday, June 6, 2018
Salahku
Nggak pernah nyangka, hanya hal kecil saja, ternyata bisa membuatmu semarah itu. Salahkah aku? Iya, salah. Aku selalu salah, seperti kata Raisa. Berurusan dengan prinsip, aku selalu kalah dan kau selalu menang. Aku hanya ingin melakukan apa yang selayaknya pasangan biasa lakukan terhadap pasangannya. Hanya itu. Aku tidak berniat membeli hatimu dengan uang karena aku bukan seorang milyarder. Aku koreksi, aku belum menjadi seorang milyarder, hehehe... Aku sedang ingin bermimpi menjadi milyarder, tidak ada salahnya kan? Tapi, tetap saja aku tidak ingin membeli hatimu dengan uang karena aku bukan tipikal orang yang seperti itu. Seharusnya kau sudah tahu itu. Mengapa kau tetap saja tidak tahu? Kau sudah berjalan bersamaku berapa lama? Apakah itu kurang untuk tahu aku seperti apa? Aku hanya tidak menyangka jika..... Ah, sudahlah. Tetap saja aku yang salah, tidak bisa diganggu gugat lagi.
Kecewa, sedih, marah. Entahlah, rasanya aku terlalu kaku jadi seorang manusia (tapi memang manusia kaku, kan terbuat dari tulang) sampai-sampai tidak bisa spontan tertawa dan terdiam secara bergantian tanpa jeda, sepertimu. Kau sedang mengencani seorang manusia, bukan seorang badut yang ada hanya untuk mewarnai harimu sesaat saja. Manusia oh manusia.... Kalau diam menakutkan, berontak juga menakutkan, tidak ada bedanya. Aku lupa, kalau aku juga manusia dan aku juga sama menakutkannya dengan dirimu bahkan aku takut pada diriku sendiri.
Tidak mudah menghargai sebuah perjuangan. Kalau hanya dengan "Iya aku tahu kalau kamu...." Semua orang juga bisa, tidak hanya aku saja atau kamu saja. Tapi pernahkah sebuah perjuangan itu menyentuh relung hati atau masuk ke dalam jendela pikiran hingga jika suatu saat hendak melakukan suatu hal, akan perlu ada dua kali proses berpikir untuk mengambil tindakan karena, well... setiap tindakan akan ada konsekuensinya. Tapi, seperti lirik lagu milik Fix You - Coldplay, tidak semua orang yang sedang diperjuangkan mengerti dan tidak semua hal yang diperjuangkan berhasil.
When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you get what you want but not what you need
Saturday, June 2, 2018
Ketika Aku Harus Menunggu
Aku tidak pernah berani menanyakan kabarmu ketika kau sedang diselimuti amarah. Aku takut, aku diam saja, aku memendam. Aku ingin menyapamu dan menanyakan, ‘Bisakah kita bicara?’ Atau ‘Kau kenapa? Boleh aku hibur?’
Tapi aku terlalu takut sehingga yang ada hanya... ‘Baiklah, maafkan aku.’
Kalau kau tanya atau orang lain tanya, mengapa aku harus meminta maaf? Apakah aku salah? Apakah aku terlalu merendah? Ataukah aku terlalu bodoh untuk mengerti bahwa terkadang itu bukan salahku? Jawabannya selalu tidak. Aku tidak salah, aku benar. Aku tidak merendah, aku seimbang. Aku tidak bodoh untuk tahu bahwa itu salahku, aku cermat. Tapi semua tidak serumit itu, ini sederhana. Sangat amat sederhana. Lalu jika kau bertanya mengapa aku selalu mengalah, kalah, menyerah, itu bukan karena aku tidak bisa. Aku sangat bisa melawanmu, memakimu, menamparmu, atau hal lain yang (mungkin) kau ingin aku untuk lakukan. Tapi ini, seperti kataku, sangat amat sederhana. Bahwa sederhananya, aku tidak mau terjadi keributan yang benar-benar merusak karena siapa sangka, hal kecil nantinya bisa jadi besar dan merusak sedangkan seharusnya hal itu bisa ditutup dan diobati agar tidak menjalar melebar.
Sampai sekarang pun, aku terkadang hanya memandangimu, menunggumu di balik layar, seakan-akan hanya aku sendiri yang merasa sepi, padahal mungkin kau juga begitu. Berulang kali kuhapus dan kuketik tulisan di kolom percakapan kita karena aku terlalu takut. Apa sebaiknya aku memberimu ruang untuk bernafas? Ah... Mungkin lebih baik begitu. Tidak apa, aku di sini baik saja dan masih sama, aku menunggumu. Kamu tidak tahu dan mungkin tidak merasa, bahwa menunggu itu tidak pernah enak sehingga aku membencinya. Tapi untukmu, sayangnya, aku lakukan. Memang susah dan berat menjadi orang yang selalu menanti.
![]() |
| Source: Pinterest |
Friday, June 1, 2018
Maaf, Inilah Aku
Jika dipikir ulang, mungkin sebagian besar orang mengira bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa atau justru kamu menganggapku bahwa pekerjaanku hanya menunggu pesanmu datang dan sesegera mungkin membalasnya dengan hitungan sepersekian detik dari kau membalas pesan. Oh, memang iya. Memang aku sedang menantikan pesanmu itu dan terburu-buru untuk membalasnya sehingga kamu mungkin mengira bahwa aku sedang menjadi seorang pengangguran. Dari mana kamu tahu bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa? Dari mana kamu menebak bahwa aktifitas yang aku lakukan hanyalah menunggu pesanmu untuk datang agar aku bisa segera membalasnya? Coba jawab, dari mana kamu tahu itu semua? Kalau saja aku tidak mengatakan aku sedang apa hanya untuk sekedar basa-basi, mungkin kamu tidak akan pernah mengetahui kegiatanku yang sebenarnya seperti apa, dan tentunya perkataan "Lagi apa?" darimu hanya sebatas obrolan ringan yang membosankan. Maaf sayang, kamu keliru. Justru aku selalu menunggunya, ya.... meskipun obrolan itu bagimu hanya sampah percakapan dua orang manusia tapi sesungguhnya, bagiku tidak.
Aku menunggu pesanmu datang, selalu. Terburu-burulah aku ketika tahu bahwa namamu muncul di kolom pemberitahuan. Sesenang itulah aku seperti anak kecil mendapatkan hadiah ulang tahun yang ingin sekali ia buka dengan segera. Kamu tidak tahu dan tidak akan pernah tahu rasanya seperti apa, mungkin. Bahkan terkadang aku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang begitu kencangnya saat mengetahui bahwa itu adalah kamu. Hal itu juga berlaku pula ketika nada dering pemberitahuan ponselku berbunyi yang kukira adalah kamu, nyatanya? Bukan kamu. Seperti pesawat yang melesat begitu kencangnya ke Bumi ketika sedang mengalami kecelakaan, jatuh, luka, kehilangan keseimbangan. Kadang aku merasa terejek saja ketika tahu kamu menertawakan aku yang seolah-olah menjadi budak cinta karena menunggu kamu dan merasa hampa pabila tidak ada kabar darimu. Apakah aku sebodoh itu? Maaf, aku tidak mau munafik hanya karena aku ingin diakui pintar ataupun kuat tetapi aku menutupi bahwa aku memang menunggu dan mencarimu jika kamu benar-benar tidak ada kabar.
Sekarang ini, hal itu sedang terjadi. Aku menunggumu. Hampir setiap detik atau menit, aku bisa merasakan sesak rasanya dadaku ketika mengetahui kabarmu tak kunjung datang. Maaf, inilah aku. Aku yang mungkin kamu anggap berlebihan dan tidak punya hal lain untuk dipikirkan juga dilakukan.
Wednesday, May 30, 2018
Memilih untuk Bertahan
Dihadapkan pada beberapa banyak opsi untuk dipilih, aku tidak begitu pintar menentukan satu di antaranya. Banyak konsekuensi, banyak risiko, dan banyak pula yang harus dikorbankan. Hidup selalu tentang berjalan pada titian pilihan yang membawa satu per satu pelajaran, wajah, situasi, dan banyak hal lain yang akan ditemui nantinya. Di situlah aku yang akhirnya berhadapan dengan jalan bercabang dan cabangnya begitu banyak. Setiap cabang tidak berbentuk jalanan lurus ataupun berkelok, namun setiap cabangnya membawa petunjuk masing-masing. Tahukah kau, bahwa hal ini adalah hal yang cukup sulit untukku lakukan. Aku berharap kau tahu dan tidak hanya diam saja karena aku sedang mencoba memberitahukanmu.
Otakku mencoba untuk melakukan proses mencerna setiap petunjuk yang tertera. Aku mengaduk-aduk memori seperti sup hangat yang enggan untuk kumakan karena memang sedang tidak nafsu. Coba saja kau duduk di hadapanku untuk menyuapkan sup hangat tersebut. Mungkin rasa dari sendokan tersebut akan terasa berbeda dibandingkan dengan saat kumenyantapnya sendiri. Sayangnya kau sedang tidak berada di hadapanku, kau berlarian entah kemana, aku tak tahu. Aku berusaha untuk menolak memori yang menyedihkan seperti saat aku menolak untuk menyuapkan sup tadi ke dalam mulutku, tapi aku tidak bisa, karena aku harus. Iya, karena aku butuh. Aku butuh memori itu untuk melanjutkan kita, seperti aku butuh sendokan sup tadi agar aku bisa tetap meneruskan kegiatan tanpa harus merasakan kelaparan.
Setiap memori yang kucoba panggil, aku menemui sedih, tawa, air mata, bahkan luka. Aku takut sayang, aku benar-benar takut. Tahukah kau akan hal itu? Oh, ayolah, kita bukan arena bermain yang selalu kau mainkan ketika sedang bosan dan akan kau tinggalkan ketika kau semakin bosan. Aku terkadang merasa berjalan sendiri tanpa ada kau di sebelahku. Setiap malam aku hampir menangisimu hanya karena aku rindu dan tentunya aku takut. Salahkah? Aku ingin meminta maaf apabila memang itu salah di matamu tapi bagiku, aku tidak salah. Kau tahu kan kadang manusia memang egois dan aku rasa, saat ini aku sedang egois untuk memilikimu.
Itu dia! Aku sudah menemukan jawabannya. Aku telah menelusuri setiap kepingan petunjuk di tiap-tiap cabang jalan yang menghadangku untuk menggapaimu dan aku menemukan hasil dari kepingan petunjuk yang telah kucoba untuk kususun. Asal kau tahu, aku melakukan semuanya tanpa bantuanmu karena kau saat itu sedang pergi meninggalkanku untuk belajar sendiri, memilih sendiri jalan mana yang harus kulalui, dan pastinya untuk mandiri di kehidupan yang (kau bilang) cukup keras ini, bukan begitu?
Aku telah sampai! Aku telah menemukanmu untuk kuajak berjalan kembali. Aku.... Ah! Sial! Aku menangis kembali, sayang. Patutkah aku meminta maaf karena aku telah menjadi seorang yang cengeng? Mungkin itu harus kulakukan karena aku masih memilihmu, aku masih memilih untuk bertahan pada kita. Ya.... meskipun kau tidak pernah suka ketika aku harus meminta maaf berulang kali tapi bagiku, tak apa. Kali ini, kau mau berjalan kembali denganku? Gandeng tanganku sekarang juga! Iya, sekarang juga, kau yang keras kepala!
Aku tidak tahu sudah berapa banyak kalimat menyerah telah aku ucapkan sampai-sampai kau bosan dibuatnya. Tapi kali ini aku memilih untuk bertahan, sama seperti yang kau lakukan selama ini, iya bukan? Hei, mungkin aku sudah gila untuk bertahan tapi, jelas itu karena kau yang membuatku gila.
Sunday, May 27, 2018
Hanya Iseng, Awalnya
Ah.... Aku rindu... Kamu ada dimana ya? Hm.... Kali ini aku ditemani dengan hembusan angin pendingin ruangan serta alunan lagu. Seharusnya aku ditemani kamu. Iya, seharusnya.
Bertemu kamu, mungkin tidak pernah terlintas dalam radar pikiranku karena... saat itu memang aku sedang tidak berniatan untuk mengenal siapa-siapa dan yang aku lakukan hanya menjelajah iseng untuk membuka hati dan bertemu dengan nama serta wajah baru. Wah, mungkin mengenal kamu adalah sebuah kebetulan? Bisa saja karena kata orang, "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Baiklah... Aku akan memercayai perkataan kebanyakan orang.
Kamu itu abstrak. Aku tidak bisa merabamu, mengendus bau tubuhmu, melihat bola matamu, dan tidak dapat menyelam menikmati indahnya dasar dalam jiwamu karena yang aku tahu kau hanyalah sebuah nama beserta suara. Itu sebelum aku menemuimu, jauh sebelum aku tahu bahwa ternyata kamu jauh lebih dari sebuah nama dan suara yang selama ini aku tahu. Selama nama dan suara itu kerap kali ada untuk menemaniku, aku belajar bahwa ada kehidupan di belahan layar sana yang sedang riuh lalu-lalang, bising, dan juga sama berdebunya seperti kehidupan yang sedang aku jalani.
Terlalu panjang untuk dipersingkat namun dari kamu, aku tidak sedang mempelajari 'pernah' yang aku alami selama ini. Aku pernah melihat pelangi setelah hujan, tertawa setelah menangis, merindu kembali setelah berpisah, merasakan amarah setelah beberapa kali 'ditampar'. Tapi, apakah bersamamu disebut pengulangan kisah-kisah yang telah lalu? Tentu tidak. Setiap insan berbeda, kamu sangat berbeda. Kamu membuatku ingin terus belajar hal baru dan tidak mengulang hal yang pernah aku pelajari sebelumnya. Mungkin kamu tidak mengerti atau mungkin saja kamu mengerti tapi tidak ingin untuk berkata "Iya, aku sebenarnya mengerti." Terima kasih untuk semua hal yang telah kamu ajarkan dalam hubungan ini. Semakin hari, aku semakin tidak sabar untuk menemuimu dan belajar banyak hal kepada kamu.
Thursday, March 1, 2018
Okay?
Just come here
I want to say something
Something like what?
Just close your eyes
Don't ever try to cheat!
Okay....
Um....
Is it done?
Yeah, it's done now
Will you remember it?
.....
Please, don't
Okay?
.....
Tuesday, February 27, 2018
I Met You

and then I met you
I met you on summer
I thought it was just summer love
and then I met you
I met you like nobody was there in my radar
I thought you were a ghost
and then I met you
I met you on pourin' rain
I thought you wanted to give me raincoat
But I've never thought that
you wanted to spend the day together just to feel the raindrops on our skin
Subscribe to:
Posts (Atom)

