Baru-baru ini aku menyadari kalau sebagian dari ide aku menulis, dulunya berasal dari keadaan yang sedih.
Bisa dibilang kalau memang banyak dari penulis berawal dari keadaan itu, dimana ide-ide gila bisa muncul begitu aja.
Beberapa bulan belakangan ini, aku nggak pernah lagi nulis di blog karena....
Mungkin memang tidak ada yang sedang ingin aku tulis, hehehe.
Take a look back on some moments, dimana air mata, sakit hati, tenaga, dan waktu banyak sekali aku habiskan hanya untuk hal picik, yang pada saat itu sangat berarti, sampai akhirnya aku menyadari bahwa,
"Wah, ternyata masa-masa itu udah lewat, ya?"
Iya.
Masa dimana membodohi diri sendiri begitu tidak bisa dimasukkan di akal.
Capek tapi tetep aja dilanjutin.
But I know, everyone has felt hurt before.
Terlebih lagi kalau sakitnya pekara cinta.
Waktu itu, aku nggak mencoba membuka mata.
Nggak mencoba memahami bagaimana sebenarnya kasih dari Sang Pencipta ternyata begitu besar dan 'tanda' yang diberikan, juga sudah jelas adanya.
Oke....
Aku tahu memang manusia bisa buta karena cinta dan apa saja bisa dilakukan, bukan?
Bahkan manusia bisa tuli, juga karena cinta.
Apapun dilakukan.
Apapun diusahakan.
Tidak lain tidak bukan, ya hanya demi memperjuangkan + mempertahankan cinta.
Sampai pada akhirnya....
"Wes... Aku pegel. Aku nggak iso ngene maneh lah yo." (Baca: "Udah... Aku capek. Aku nggak bisa kaya gini lagi lah ya."
Sayangnya hal itu berjalan sudah lebih dari sekian tahun lamanya.
Bahkan kejadian itu berulang kali terjadi.
Alasannya sama.
Bahkan orangnya pun, sama.
Nggak ada tujuan tapi nggak ada pemberhentian juga.
Pilihan itu sudah disediakan, sebenarnya.
Iya, sebenarnya.
Sayangnya, aku menolak.
Aku pura-pura tidak melihat.
Bukan pura-pura, tapi memang tidak ingin melihat pilihan tadi.
Teman-teman bosan menjadi pendengar di saat aku butuh telinga untuk kawan dari mulut dan hatiku.
Begitu juga aku, yang sudah bosan dan jenuh berperang di medan perangku sendiri.
Tanpa kawan, banyak lawan.
Tanpa alat perlindungan dan perlawanan, tanpa bala bantuan.
Hanya ada penyerangan dan penyerangan.
Semuanya bersiklus.
Terus dan terus diulang.
Seperti radio, pendengar pasti akan bosan kalau lagu yang diputar, hanya lagu itu-itu saja dan diulang-ulang.
Iya, kan?
Dari situ, akhirnya aku bisa keluar.
Dari situ, aku memutuskan menyurutkan danau yang sudah aku buat, luka yang sudah aku biakan menganga tanpa diobati, juga banyak hal lain yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu seperti apa detailnya.
Orang boleh bilang kalau aku ini bodoh, tolol, atau apapun sebutan lain yang bersinonim sama seperti kedua kata itu.
Iya, tidak apa-apa.
Aku akui kalau memang dulu aku sebodoh dan setolol itu.
Tapi, apakah kalian tidak pernah merasa sedikit saja bodoh dan tolol karena orang yang kalian cintai?
Jawablah.
Sampai akhirnya, cerita itu sudah selesai.
Tidak ada lagi dia yang membuat aku bodoh, tidak ada lagi aku yang terus mengulangi kebodohan.
Di situ, waktu itu, hanya ada aku.
Aku yang menolong diriku sendiri buat 'keluar' dari zona itu.
Aku yang pergi membawa koper, tanpa siapapun yang menghantar.
Dan aku, yang jatuh berkali-kali tanpa ada tangan yang mengulur.
Iya, cuma aku yang menegakkan diriku sendiri like there's nothing ever happened in my life.
"Emang, nggak ada sahabat atau orang terdekat yang bantu kamu move on, gitu?"
ADA.
Sudah jelas ada.
Tapi, jika hal itu nggak muncul dari keinginan diri sendiri, percuma.
Percuma apa?
Percuma mereka ngomong sampai berbusa.
Percuma mereka marah-marah sama kamu dan yang ada, mereka malah membuat dosa karena membenci mantan pacar/pacar/gebetanmu.
Percuma mereka mengeluarkan energi, waktu, dan uang mungkin, hanya untuk menghiburmu yang jelas-jelas buta, tuli, dan bodoh karena cinta.
Untungnya mereka ikhlas.
Jadi segala hal yang percuma, menjadi terbayar rasanya.
Nah, itu dia kuncinya.
Ikhlas dan juga niat.
Niat buat apa?
Buat bangkit lagi, berdiri lagi, jalan lagi.
Memang siklus itu akan terjadi dalam suatu hubungan.
Sudah pasti itu akan terjadi, entah itu kapan dan bagaimana, tapi jelas akan terjadi.
Sama seperti halnya anak kecil yang belajar.
Ia belajar jatuh untuk berjalan lebih baik dan waspada, belajar mengeja untuk bisa membaca lebih lancar, dan seterusnya.
Mencintai juga belajar.
Belajar mengenal satu sama lain; belajar menjadi air ketika ia adalah api (dan sebaliknya); belajar memahami, bukannya mengasari; belajar berkomunikasi; dan masih banyak lagi.
Tapi satu yang terpenting dari beberapa hal penting lainnya, bahwa kalian berdua mau belajar untuk bertanggung jawab atas sikap, sifat, dan keputusan yang telah diambil untuk memulai suatu hubungan.
Kalau kalian pernah bosan?
Semua orang pernah dan hal itu manusiawi.
Bahkan nanti akan dihadapkan pada adanya orang lain yang akan mengisi kebosanan itu.
Tapi balik lagi, semuanya itu belajar.
Belajar untuk mengerti, bahwa kebosanan itu adalah tantangan untuk membuat belajar lebih kreatif dalam merubah suasana, belajar menyelesaikan situasi itu.
Bukannya memasukkan orang baru sebagai shortcutnya.
Bertahanlah jika ingin dan bisa untuk dipertahankan, karena.... (isilah titik-titik dengan hal positif yang bisa diambil dari hubungan dan sifat + sikap pasangan).
Dan, menyerahlah jika memang sudah saatnya diselesaikan, karena.... (mungkin jika lebih banyak hal negatif daripada hal positif yang bisa diambil dan diingat dari suatu hubungan).
 |
| Source: Pinterest |