Showing posts with label Memories. Show all posts
Showing posts with label Memories. Show all posts

Wednesday, November 27, 2019

Midnight Wishes


I hope someday you know that
You know that I love you that much
You know that I do it because my feelings are true
pure
sure

I hope, when you’re finally realize, it really touches your heart
your deepest heart
your darkest room
your smallest part of the heart
that long time ago, you said that I’d already took your heart

I wish I finally don’t use any effort to proof you anything
I wish you could open your arms and let me in
I wish you let me go inside your heart
I wish, you could finally love me, unconditionally 
love me and don’t take me for granted
love me and treat like you’re afraid to lose me
love me like every second is worth to spend together

Maybe it’s not me that you’d searching for
Maybe it’s not me that could touch your heart
Maybe, it’s all my faults 
Letting you go has never been easy
But I take it
I finally realize, you’d never wanted me

The eyes that I look deep into it right now
Is not the eyes that I had look
The hands, the smells, the heartbeating
Aren’t there anymore
It’s okay
The last time I saw you
was the last time I want to say goodbye
I still want to chase you
But, I know that now, you’re not wait for me to hold my hands anymore
It makes me sad
But, it’s you
The one that I loved from the very first start
The person that I’ve been searching for
The person that still makes my heart breaks 
and my tears are rolling down my face

I wish, someday, you will finally realize
I wish that day would come
Even though I know, I am just wishing something that never happens 
:)

Tuesday, February 27, 2018

Pillowtalk #9: Akhirnya Usai

Baru-baru ini aku menyadari kalau sebagian dari ide aku menulis, dulunya berasal dari keadaan yang sedih.
Bisa dibilang kalau memang banyak dari penulis berawal dari keadaan itu, dimana ide-ide gila bisa muncul begitu aja.
Beberapa bulan belakangan ini, aku nggak pernah lagi nulis di blog karena....
Mungkin memang tidak ada yang sedang ingin aku tulis, hehehe.
Take a look back on some moments, dimana air mata, sakit hati, tenaga, dan waktu banyak sekali aku habiskan hanya untuk hal picik, yang pada saat itu sangat berarti, sampai akhirnya aku menyadari bahwa,
"Wah, ternyata masa-masa itu udah lewat, ya?"

Iya.
Masa dimana membodohi diri sendiri begitu tidak bisa dimasukkan di akal.
Capek tapi tetep aja dilanjutin.
But I know, everyone has felt hurt before.
Terlebih lagi kalau sakitnya pekara cinta.

Waktu itu, aku nggak mencoba membuka mata. 
Nggak mencoba memahami bagaimana sebenarnya kasih dari Sang Pencipta ternyata begitu besar dan 'tanda' yang diberikan, juga sudah jelas adanya.
Oke....
Aku tahu memang manusia bisa buta karena cinta dan apa saja bisa dilakukan, bukan?
Bahkan manusia bisa tuli, juga karena cinta.
Apapun dilakukan.
Apapun diusahakan.
Tidak lain tidak bukan, ya hanya demi memperjuangkan + mempertahankan cinta.

Sampai pada akhirnya....
"Wes... Aku pegel. Aku nggak iso ngene maneh lah yo." (Baca: "Udah... Aku capek. Aku nggak bisa kaya gini lagi lah ya."
Sayangnya hal itu berjalan sudah lebih dari sekian tahun lamanya.
Bahkan kejadian itu berulang kali terjadi.
Alasannya sama.
Bahkan orangnya pun, sama.
Nggak ada tujuan tapi nggak ada pemberhentian juga.
Pilihan itu sudah disediakan, sebenarnya.
Iya, sebenarnya.
Sayangnya, aku menolak.
Aku pura-pura tidak melihat.
Bukan pura-pura, tapi memang tidak ingin melihat pilihan tadi.

Teman-teman bosan menjadi pendengar di saat aku butuh telinga untuk kawan dari mulut dan hatiku.
Begitu juga aku, yang sudah bosan dan jenuh berperang di medan perangku sendiri.
Tanpa kawan, banyak lawan.
Tanpa alat perlindungan dan perlawanan, tanpa bala bantuan.
Hanya ada penyerangan dan penyerangan.
Semuanya bersiklus.
Terus dan terus diulang.
Seperti radio, pendengar pasti akan bosan kalau lagu yang diputar, hanya lagu itu-itu saja dan diulang-ulang.
Iya, kan?

Dari situ, akhirnya aku bisa keluar.
Dari situ, aku memutuskan menyurutkan danau yang sudah aku buat, luka yang sudah aku biakan menganga tanpa diobati, juga banyak hal lain yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu seperti apa detailnya.
Orang boleh bilang kalau aku ini bodoh, tolol, atau apapun sebutan lain yang bersinonim sama seperti kedua kata itu.
Iya, tidak apa-apa. 
Aku akui kalau memang dulu aku sebodoh dan setolol itu.
Tapi, apakah kalian tidak pernah merasa sedikit saja bodoh dan tolol karena orang yang kalian cintai?
Jawablah.

Sampai akhirnya, cerita itu sudah selesai. 
Tidak ada lagi dia yang membuat aku bodoh, tidak ada lagi aku yang terus mengulangi kebodohan.
Di situ, waktu itu, hanya ada aku.
Aku yang menolong diriku sendiri buat 'keluar' dari zona itu.
Aku yang pergi membawa koper, tanpa siapapun yang menghantar.
Dan aku, yang jatuh berkali-kali tanpa ada tangan yang mengulur.
Iya, cuma aku yang menegakkan diriku sendiri like there's nothing ever happened in my life.
"Emang, nggak ada sahabat atau orang terdekat yang bantu kamu move on, gitu?"
ADA.
Sudah jelas ada.

Tapi, jika hal itu nggak muncul dari keinginan diri sendiri, percuma.
Percuma apa?
Percuma mereka ngomong sampai berbusa.
Percuma mereka marah-marah sama kamu dan yang ada, mereka malah membuat dosa karena membenci mantan pacar/pacar/gebetanmu.
Percuma mereka mengeluarkan energi, waktu, dan uang mungkin, hanya untuk menghiburmu yang jelas-jelas buta, tuli, dan bodoh karena cinta.
Untungnya mereka ikhlas. 
Jadi segala hal yang percuma, menjadi terbayar rasanya.

Nah, itu dia kuncinya.
Ikhlas dan juga niat.
Niat buat apa?
Buat bangkit lagi, berdiri lagi, jalan lagi.
Memang siklus itu akan terjadi dalam suatu hubungan.
Sudah pasti itu akan terjadi, entah itu kapan dan bagaimana, tapi jelas akan terjadi.
Sama seperti halnya anak kecil yang belajar.
Ia belajar jatuh untuk berjalan lebih baik dan waspada, belajar mengeja untuk bisa membaca lebih lancar, dan seterusnya.
Mencintai juga belajar.
Belajar mengenal satu sama lain; belajar menjadi air ketika ia adalah api (dan sebaliknya); belajar memahami, bukannya mengasari; belajar berkomunikasi; dan masih banyak lagi.
Tapi satu yang terpenting dari beberapa hal penting lainnya, bahwa kalian berdua mau belajar untuk bertanggung jawab atas sikap, sifat, dan keputusan yang telah diambil untuk memulai suatu hubungan.
Kalau kalian pernah bosan?
Semua orang pernah dan hal itu manusiawi.
Bahkan nanti akan dihadapkan pada adanya orang lain yang akan mengisi kebosanan itu.
Tapi balik lagi, semuanya itu belajar.
Belajar untuk mengerti, bahwa kebosanan itu adalah tantangan untuk membuat belajar lebih kreatif dalam merubah suasana, belajar menyelesaikan situasi itu.
Bukannya memasukkan orang baru sebagai shortcutnya.
Bertahanlah jika ingin dan bisa untuk dipertahankan, karena.... (isilah titik-titik dengan hal positif yang bisa diambil dari hubungan dan sifat + sikap pasangan).
Dan, menyerahlah jika memang sudah saatnya diselesaikan, karena.... (mungkin jika lebih banyak hal negatif daripada hal positif yang bisa diambil dan diingat dari suatu hubungan).

^^^^^
Source: Pinterest

Sunday, June 11, 2017

I fall in love with you
And I think, I always will
'tho we're never be one again
Even the death will tears us apart
Even...
We'll never meet each other again

But I'm that pretty optimistic
God ties us that tight
'till I could even breathe while with you
Until I clearly don't see anybody else but you

You're so close yet so far
I can't even hold you in my arms
But I do...
I do hold you in my prayers

All the gratitudes were sent to you
For teaching me what love looks like
For being the angel that God's sent to me
For being my long lost soul that I've been searching for
And for keeping me in your smallest room inside your heart

Sunday, May 7, 2017

Ia

Setelah berusaha membuka, merapihkan, menghapus yang tidak perlu, dan menata ulang.... Ternyata tidak habis di situ saja usaha yang telah dilakukan selama ini untuk tetap membiarkan "ia" singgah di tempat awal. Memilih untuk meninggalkannya di sana apakah sebuah kesalahan? Tidak. Meskipun luka yang diberi begitu terasa, dalamnya goresan belati juga sangat dalam dan berbekas, bahkan senyum yang ditinggalkan terakhir kali masih terbingkai indah di memori, tidak akan pilihan ini disebut sebagai sebuah kesalahan tapi lebih sebagai sebuah kaca untuk jiwa yang selalu nampak lalu menghilang setelahnya dan terjadi berulang-ulang kali sekalipun sudah sekian waktu tidak ada merpati yang datang dan singgah untuk memberikan kumpulan surat yang kerap kali ku beri judul "Nyawa dan Harapan".

Seandainya ia tahu bahwa pergi yang kumaksudkan adalah tinggal dan benci yang kukatakan adalah sayang, mungkin tidak akan pernah ada yang namanya sebuah pembelajaran bahwa ada kalanya sesuatu yang pergi tetap tinggal, membekas, dan memberi kesan indah berselimut pahit yang benar kenyataannya ketika dihadapkan dengan sebuah pertemuan, akan ada perpisahan yang berarti, entah itu untuk sejenak atau selamanya. 

Pernah aku berpikir, apakah foto yang usang akan bisa kembali mengulang kejadian itu pada masanya? Apakah bimbang yang diberikan ketika mengingat kejadian pada sepucuk kertas dan juga beberapa kertas foto dapat memecah rasa sedih seseorang dan menggantikannya dengan senyum? Apakah selamanya yang ia sebutkan dapat terulang lagi oleh suara parau dari bibir seseorang yang selama ini dirindukan? Dan apakah hal itu dapat membawanya kembali?

Ia kerap hadir di keduanya, mimpi dan kenyataan (yang memberi pahit bahwa ia tak lagi ada di sini, bersamaku). Teman yang selama ini dirindukan kehadirannya memberi degup jantung pada jantung yang lemah, juga sesosok sahabat jiwa yang dinantikan untuk kelulusan sebuah gelar selamanya. Penantian tidak pernah sebentar, untuk itu terkadang beberapa orang membencinya. Pelabuhan tidak pernah sepi untuk laut yang ramai, untuk itu seringkali kapal-kapal hanya datang bersinggah sebentar. Tetapi pemakaman menjadi tempat yang sepi karena hampir setiap kali, manusia datang untuk menguburkan perasaannya terkait sepucuk cinta dan sebuah rahasia yang harus ia benamkan dari dunia agar tersisa banyak kebahagiaan dari sedikit hal yang harus "ditidurkan". Dan memang, hampir setiap nyawa mempunyai cinta dan rahasia yang tidak ia katakan dan ungkapkan meskipun hati juga perasaannya terluka, tapi setidaknya hanya dirinyalah yang merasakan perih. 

Bicara soal cinta dan rahasia, sudah setahun setengah lamanya semenjak pertemuan yang memerahkan jantung dan pipiku meskipun lampu kota terlihat temaram nyalanya. Pertemuan yang memberikan sebuah bulir-bulir bahagia di dalam sebuah lingkaran kecil. Tidak pernah terduga bahwa hiruk-pikuk orang berlarian untuk berteduh dari hujan justru membawaku berlarian di tengahnya sembari menyenandungkan cinta dan rahasia di dalam gemuruh suara langit dan lampu kilat panggung semesta.

Tuesday, April 4, 2017

Mungkin

Mungkin ini sudah kali sekian rindu itu hinggap & kali ini aku cuma ingin dia tinggal, tidak pergi kemana-mana, membiarkan sang empunya tubuh merasakan seperti apa rasanya rindu pada hal yang tidak ada.

Berawal dari tidak kenal menjadi kenal,
dari yang awalnya suka kemudian benci,
yang tidak pernah bertemu hingga rindu,
dari yang awalnya tak mau menetap dan menatap,
hingga akhirnya pilihannya jatuh pada tetap,
entah itu tinggal atau memiliki asa dan rasa.

Seperti itulah awal cerita hingga akhirnya menemukan akhir. Mungkin aku tidak mengira bahwa akhirnya seperti ini, bahkan tidak pernah terlintas di fikirku bahwa ujungnya akan berakhir dengan tidak indah. Siapa yang ingin kisah kasihnya tidak berakhir indah? Tidak ada, jawabnya. Begitu pula aku. Kali ini adalah tentang mungkin yang akan aku ceritakan, sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan karena rindu yang sedikit akan menjadi sakit yang perlahan-lahan hinggap, terlebih lagi terhadap sesuatu yang aku tidak tahu apa, telah membuat diriku rindu sebegitunya.

Banyak yang bertanya dan berkata, 
Mengapa tidak mencari seorang yang baru?
atau
Mengapa terus hinggap dan jatuh pada lubang yang sama? Tidakkah kau lelah telah diperlakukan sebegitunya?
atau lagi
Kenapa sih masih betah sendiri? Kenapa ga cari yang lain aja?

Iya, iya... Aku dengar kok. 
Hanya begitu jawabku dalam hati sambil tersenyum.

Perkataan dan pertanyaan juga pernyataan kalian selalu aku dengar, kalimat-kalimat motivasi pun juga aku telan dan resapi, bahkan tak banyak lagu-lagu atau foto-foto bertemakan "bangkit dan pergi" ada di ponselku. Aku tidak pernah suka dengan omong kosong, bahkan aku membencinya, seperti aku mencintai begitu dalamnya makna janji tapi membenci dengan sepenuhnya omong kosong.

Ini semua tidak mudah.
Kataku.
Aku tidak ingin kalian menjadi aku atau merasakan apa yang aku rasakan, betapa susahnya mentas/menyeruak dari "kubangan" ini. Mungkin sebagian dari kalian telah mengerti bagaimana susah dan lelahnya melakukan segala cara namun hasilnya nihil. Mungkin ada beberapa di antara kalian yang bersikap semua ini hanya lalu. Mungkin ada hampir di antara kalian yang bahkan tidak pernah merasakannya, entah itu aku  harus mengucapkan bahwa kalian telah beruntung atau mungkin akan ada masanya merasakan, namun dengan cerita yang berbeda.

Mungkin aku sudah pergi, mungkin juga ini semua telah selesai, mungkin juga ia telah beranggapan bahwa aku ini adalah orang asing saja, dan banyak kata-kata mungkin yang ingin terucap namun, perlukah?
Aku tidak begitu ahli dalam mencintai maupun melupakan, tetapi aku ahli dalam membenci dan melukai, seperti aku melakukan kedua hal itu terhadap diriku sendiri. Entah sedari kapan, aku sadar bahwa aku tidak bisa mengerti dan memahami diriku sendiri hingga aku lantas melukainya, berkali-kali.

Mungkin aku telah kuat dan melangkah ke depan, tapi mengapa masih ada ruang untuknya singgah? Setelah aku menyadari bahwa bertemu terakhir kali dengannya, menyisakan luka yang mendalam hingga aku memilih untuk melihatnya dari belakang. Mungkinkah segala hal akan berubah seperti pada tayangan layar kaca maupun layar bioskop? Bagaimana aku jujur jikalau hal tersebut melukaiku (dan dia) lebih dalam lagi? 

Mungkin kalian tidak pernah mengerti mengapa bisa aku sebandel ini. 
Pernahkah kalian menemukan sesosok orang yang tidak pernah diperkirakan hadirnya, memiliki kenikmatan dan kecintaan akan suatu hal yang sama dengan diri sendiri, mempunyai pandangan/persepsi yang sama terhadap suatu hal, hingga keinginan hidup di masa depan dengan prinsip hidup yang hampir sama, bersedia menerima apapun adanya, bahkan bersedia menyelesaikan sesuatu tanpa harus memberi amarah di dalamnya, dan banyak hal lain yang membuatku melihat dirinya adalah cermin dari diriku.

Maafkan aku, diriku, yang mungkin telah membuatmu terluka karena rindu dan pikiran yang belakangan ini mencari-cari arah untuk menyelamatkannya, 'cause I really in need the food for my soul.

Bagaimana mungkin aku bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan


jika kau kerap hadir di keduanya?

Thursday, June 30, 2016

Pelangi

By HiVi!



Ku ingin cinta hadir
Untuk selamanya
Bukan hanya lah
Untuk sementara 
Menyapa dan hilang 
Terbit tenggelam bagai pelangi
yang indahnya hanya sesaat
Tuk ku lihat dia
mewarnai hari


Tetaplah engkau disini
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
untuk cinta sesaat 

Mengapa ku tak bisa jadi cinta yang tak akan pernah terganti? 
(ku hanya menjadi) cinta yg tak akan terjadi
Lalu mengapa kau masih disini?
Memperpanjang harapan 


Tetaplah engkau disini
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
untuk cinta sesaat 

Kau bagai kapal yg terus melaju
Di luasnya ombak samudera biru
Namun sayangnya...
Kau tak pilih aku 
Jadi pelabuhanmu 


Tetaplah engkau disini
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
untuk cinta sesaat 


Bila tak ingin disini
Jangan berlalu lalang lagi 
Biarkanlah hatiku 
Mencari cinta sejati
Wahai cintaku
Wahai cinta sesaat

Thursday, June 9, 2016

Kenapa Dia Lagi?

Kepada seseorang yang, bagiku, selalu melantukan begitu banyak senandung paling indah untuk ku dengar. 

Maybe a little throw back will hurt, for me, and it won't for you.


Friday, April 22, 2016

Bangku PerTKan

Mangosteen is everywhere!!!!

Ngomong-ngomong soal buah manggis dan ngomong-ngomong I've nothing to do right now, so I decide to post something about my childhood and it's all begun with mangosteen.

Jadi... Awal mula Shelly kecil kenal buah ungu ini dimulai saat aku, si Shelly kecil, duduk di bangku perTKan, iya... bangku perTKan. Pas itu, nggak ngerti kenapa buah ini keliatan aneh gitu. Warnanya agak hitam keunguan, tapi dalemnya warna putih gitu kan, ya? Nah, aku ngeliat buah ini itu, keliatan aneh banget gitu. Aku kira dalemnya punya warna yang sama kaya luarnya, ternyata nggak. Dan... Aku kira rasa dari buah itu, pahit. Tapi ternyata, nggak sama sekali.


Dari kecil, si Shelly kecil ini nggak pernah diem di satu tempat. Persis kaya sekarang, sukanya muter kemana-mana, nggak bisa diem (banget) kayanya. Selalu muter ke sana-sini, mulai dari mainan satu ke yang lain, masuk ke kelas-kelas, sampe ke ruang guru yang kebetulan sebelahan sama kelas TK A dan kelas TK B, ada di lantai 2. 

Kalo balik lagi ke jaman sewaktu Shelly masih kecil, I thought how times fly so fast. Dari yang pengen banget masuk ke sekolah TK yang banyak mainannya sampe akhirnya pindah ke TK deket rumah gara-gara di TK awal, kelasnya harus dikunci. Like, helloooooo.... Aku jadi nggak bisa mainan dong, ya? Padahal, aku pengen main. Alhasil, senengnya masuk di TK awal cuma pas naik anjem (re: antar jemput), sebelum bel masuk kelas, sama pas istirahat aja. Sisanya? Udah, nggak usah ditanya lagi. Yang jelas, aku selalu nangis dan mukul-mukulin pintu kelas sampe bisa kebuka, nggak dikunci lagi. Inget bangeeeeeet, mulai dari yang gurunya ngeladenin aku, ngediemin aku yang nangis, sampe akhirnya gurunya nyerah sama aku yang notabene selalu nangis dan teriak-teriak kenceng banget. Yaiyalah... Ini sekolahan apa penjara sih, pake dikunci segala. Dan.... Terakhir kalinya yang aku inget sebelum aku pindah ke TK deket rumah, pas itu si Shelly kecil nangis minta pulang aja udah. Nggak kuat sama tekanan batin di situ, hahahaha. Akhirnya, pergi ke wartel, yah....kebetulan pas itu masih jaman-jamannya wartel, buat telpon mama minta pindah sekolah aja. Eh, ternyata.... Ceritanya mau jalan ke wartel sambil sesenggukan abis nangis (untuk kesekian kalinya), bukannya lewat dengan tenang, justru ada anjing ngejar dan bunyi mulu, nggak bisa diem. UDAH.... POKOKNYA PINDAH AJA. 

Then, Shelly kecil ada di TK selanjutnya. Lumayan lah, deket rumah dan bisa satu TK sama temen mainku dari kecil, Reza. Si kurus kering ini yang awal mulanya ngasih tau ke aku kaya gimana itu buah manggis (re: mangosteen) ke anak itu. Anak itu.....? Pasti mikir kan, "Bukannya yang ngenalin buah manggis ini, si Reza, ya?". Bukan, yang ngenalin ke anak si pembawa buah manggis ini, ya Reza. 

R: He, ayo ke sana, Shell.
S: Ngapain?
R: Ada anak bawa buah manggis lo.
S: HAH? APA ITU? (Maklum.... Pas itu, aku belum tahu apa itu buah manggis.)
R: Sumpah kon nggak ngerti? (Re: Sumpah, kamu nggak tahu?)
S: Nggak. 
R: Yowes, tak beritahu makane. Ayo! (Re: Yaudah, makanya aku beritahu.)

Akhirnya kita jalan ke bangku kayu yang ada persis di depan ruang guru. Di situ duduk seorang anak laki-laki berambut tipis yang kalo diinget-inget lagi, potongan dia mirip poninya Chibi Maruko Chan. HAHAHAHA. Gue jahat banget, elah.....

S: Halooo.
R: Nggis, ini Shelly.
A: Oh, iya. Duduk sini lo.
R: Minta buah manggisnya poo, boleh ga? (Emang Reza ini tukang malak, guys.)
A: Oh, iya ngga apa. Ini lo, mau ta?

Sebelum kejauhan, FYI, nama anak yang punya buah manggis itu Anggis. DAN..... Speechless lah si Shelly kecil.

S: Oh, iya. Boleh? 
A: Ya nggak apa lah. Kenapa ga boleh? Enak kok, coba aja.
S: Namamu siapa tadi?
A: Anggis. 
S: Wah, sama kaya nama buahnya, ya? Manggis dari Anggis. Hahahaha. Yaudah deh, aku nyoba satu, ya?
A: Hahaha, iya, ya? OK, ambil aja.
S: ENAK TERNYATAAAAA. Boleh ambil lagi? (Dasar ga tahu diri.)
A: Boleh aja, ambil nih. Tapi aku bawa cuma dikit. 
R: Halah, Anggis ae lo. Gapapa wah, yo kan?
A: Iyo, Za.

Dari situlah..... Awal mula aku tahu buah manggis, dan kenal sama anak yang bawa buah manggis buat bekel. Iya, manggis dari si Anggis. Kalo aku inget-inget tentang manggis, selalu keinget kalo aku dulu punya temen TK namanya Anggis dan nggak ngerti gimana ceritanya, dia sempat jadi....... (fill in the blank by yourself, hahahahhaa.)

Wednesday, April 6, 2016

It's wrong
I should've not opened the gallery
I should've stopped to see his pictures
But why?
Why my heart becomes so sick?
Why it constantly makes me cry?
Why all I can do just lying to myself that I am happy?
Why all I wanna do just being happy with him?
Please God, it hurts me 

:(

Monday, April 4, 2016

#5 Kapas yang Terlepas

Aku ingat pada kamu yang hebat, saat memberikan hadiah dari hasil keringat

Aku kembali kepada masa itu, saat kau menakutiku seperti hantu

Aku berhenti untuk mengulang karena sudah tidak ada yang kembali pulang

Ketika wangimu selalu bisa, menjalin putusnya asa

Saat kau memilih untuk terus menumbuhkan trauma, justru aku kembali melihat kita yang dulu bersama

Ketika tanganmu yang membuatku rindu, namun kau melumpuhkan ku bak serdadu

Aku ingin menahan hebatnya rindu ini, disaat melihatmu sudah tak di sini

Namun tangis justru menderu, seiring dengan kamu yang semakin menjauh

Berkali-kali merasakan pilu, tak membuatmu berhenti berlalu

Ingin menggenggammu sampai nanti, tapi aku bukanlah yang ada di hati

Kau yang kedua, yang selalu ku sebut dalam doa

Aku harus menjadi kapas, karena kau telah melepas

Senyummu tak bisa ku bagi karena kau tak akan terganti

Terima kasih untuk segala kenangan, juga segala keinginan untuk hidup menua bersamamu bersama dengan angan

Kau terindah memang, bahkan mampu membuatku jatuh cinta hingga air mata terus berlinang mengingat semua yang terkenang

I can't sleep and I can't hide

Ini sih parah... Iya, parah. 

Aku nggak bisa menikmati waktuku, sama sekali. Aku terdiam membisu dibungkam oleh angan-angan. Terhenti di batas waktu, menghitung ini sudah hari keberapa dan sudah selama apa aku tertinggal, sekali lagi, di belakang sini. Aku benci, harus lagi dan lagi tidak bisa tidur dengan tenang ketika mimpi itu datang lagi, sekali lagi menjemputku dari duniaku untuk dipertemukan lagi denganmu, di dunia kita. Rekaman tersebut terputar lagi dan kali ini dalam layar alam bawah sadarku. Seperti nyata. Bahkan sangat nyata hingga aku tidak bisa membedakan apakah ini benar duniaku atau hanya alam mimpiku, alam bawah sadarku. Rupanya... ini adalah alam bawah sadarku yang sedang merindukanmu. 

grunge, sad, and cry image

Berontak adalah reaksi awal yang ku timbulkan saat pasukan alam bawah sadarku berusaha untuk membuka lemari besi berisi kepingan hitam sisa rekaman saat itu. Seperti sedang melakukan kemoterapi terhadap para pejuang kanker, aku merasakan tubuhku berusaha untuk menolak pemutaran kepingan hitam tersebut. Namun, karena pada dasarnya alam bawah sadar selalu berusaha untuk memenangkan peperangan dengan cara apapun, agaknya sekali lagi, di antara berkali-kali usahanya untuk melawan pertahananku, mereka berhasil meruntuhkannya juga. 

Entah kau sedang merindukan aku atau kebalikannya yang terkadang aku biarkan saja terjadi, aku tidak tahu. Sekuat apapun aku memaksa untuk buta, tuli, dan tidak peduli, ternyata kerinduan itu lebih kuat dibandingkan ketidakpedulianku. Aku berusaha memposisikan diriku menjadi seorang yang buta dan tuli dengan arti agar aku bisa mengerti isyarat untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin saja tidak ada satupun yang mengerti, termasuk kamu. Andai saja lelah bisa menyatukan, sayangnya tidak.

american horror story, ahs, and tate image

Menahan isak tangis itu tidak mudah, harus sekuat tenaga bahkan ketika tenaga yang kau punya hanya berupa kepingan-kepingan. Kadang memilih bungkam lebih baik sembari mengumpulkan sisa-sisa ketegaran yang aku punya untuk aku tabung. Ingat pepatah sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit, kan? Aku berharap bahwa tabungan ketegaranku nanti akan terus bertambah seiring kemampuanku untuk berjalan dengan atau tanpamu. Dunia ini jauh lebih keras dibanding yang dibayangkan dan ketika itulah, kau harus berusaha untuk lebih keras dibandingnya agar tidak kalah. Selama ini aku boleh terlihat lemah pun tidak kuat toh semua manusia mempunyai sisi yang tidak diketahui siapapun kecuali akan nampak sendiri nantinya. Bahkan boleh perjuangan ini tidak terlihat di mata siapapun kecuali diriku sendiri. Tidak peduli sekeras apa kau mengasah pedang kepercayaan, jika orang tersebut memberi tameng terhadap pedangmu, tak akan kepercayaan tersebut menancap dengan tepat padanya. Tak apa... Orang normal tidak akan mengerti bahasa yang selama ini aku isyaratkan, pulalah kamu.

Kembali kepada kepingan hitam tadi....
Bermula dari malam kemarin ketika hujan deras mengguyur Bumi, membasahi pepohonan dan membuatnya goyah, pun aku. Kegoyahan akibat kepingan hitam itu membuatku merasakan alam ikut mencubit-cubit diriku hingga membiru. Kau tahu ini sakit? Aku membiarkan sakit itu melebamkan sekujur tubuhku. Kadang aku tidak peduli seberapa biru yang nampak nantinya, yang aku pedulikan adalah ketidakpedulianku terhadapmu. Aku bukan kamu yang bisa mengatur rollercoaster. Aku tidak bisa menampik bahwa aku selalu goyah terhadapmu bahkan ketika aku harus memulai pertengkaran lagi denganmu. Sudah habis dayaku berbicara normal agar kau mengerti, lebih baik aku membungkam semuanya agar kau bisa bebas berspekulasi sendiri terhadapku dan aku lebih memilih untuk mengalah padamu.

Ketika kamu sudah tidak berkobar lagi saat membicarakan sesosok manusia yang mampu mematri hatimu begitu lama, itu tandanya kamu sudah melanjutkan perjalananmu ke perhentian selanjutnya. 
Q: Tapi bagaimana jika seseorang menyebut namanya lagi?
A: Jawab saja seadanya.
Q: Aku melihatmu masih berkobar seperti batu bara yang dikipas oleh pedagang sate. Tidakkah saat namanya disebut, hal itu melukai hatimu?
A: Perlukah aku jelaskan lebih lanjut? Kau justru membuatnya semakin dalam bahkan disertai bubuhan garam rindu. 
Q: Is it what people called the sweetest pain?
A: Yes. It is. Something tells me that I'm going to love him forever even he's forgetting me and even he doesn't wanna come back to me.
Q: WHY? Seriously for after all this time he's been hurting you?
A: Yes. Why? The simple thing is I put my trust in him even he couldn't trust me anymore and still having a trauma for continuing ours. 
Q: If he's saying goodbye to you, what will you do then?
A: I will let him goes to find his happiness where there's no me in there.

Q: But what if both of you will be together again?
A: :) I couldn't answer your question. Sorry.

Tuesday, February 23, 2016

Pillowtalk #5: The Glazed Eyes

move on, text, and escape image

Setelah sudah lewat beberapa minggu lamanya aku tidak mendengar kabarnya lagi secara face to face, bahkan aku lupa seperti apa wajahnya yang sekarang, gaya rambutnya yang selalu cepat panjang setelah potong, parfum apa yang dia semprotkan berkali-kali di tubuhnya, dan banyak lagi yang hampir sepertinya aku lupa (secara fisik) bagaimana dia yang sekarang, dia yang baru. Setiap kali aku mencari cara untuk 'mengembalikan' dia justru yang terpanggil oleh fikiranku adalah dia yang dulu, yang selalu memakai hanya dua macam parfum setiap bertemu denganku hingga aku selalu tahu bahwa itu dia, yang selalu menyuapkan makanan ke dalam mulutku ketika kita makan berdua, yang selalu meminta untuk dipegang rambutnya dengan lembut agar bisa tertidur, yang tidak menggunakan hp saat makan, yang selalu mengingatkan dan mau untuk diingatkan beribadah, yang selalu mengirimkan suara beserta lantunan gitarnya kepadaku untuk menyampaikan lirik yang dia nyanyikan untukku, yang selalu mau mendengarkan dan menghadapi kebawelanku-kegilaanku-keanehanku, dan tentunya yang selalu berlaku seperti bayi ingin diperhatikan. Banyak lagi hal yang berdatangan ketika aku berusaha memanggilnya dan itu tidak berhenti hingga akhirnya aku tertawa dan mendorongnya kembali ke dalam tempat yang seharusnya agar tidak.... yaaaa, agar ia yang dulu tidak kembali karena sekarang ini bukan dulu, sekarang adalah waktu juga tempat di mana aku tidak tinggal bersama dengan hal-hal tersebut apalagi dia.

"Kamu harus terbiasa dengan aku yang sekarang. Aku bukan aku yang dulu kamu kenal. Sekarang, ya ini aku."

Aku masih ingat kalimat yang dia ucapkan beberapa waktu yang lalu dan seperti patung, kalimat itu terpahat di dalam pikiranku begitu dalamnya hingga setiap kali aku merasa ingin marah atau mengeluh, kalimat itu muncul seperti reminder bahwa yang kamu hadapi bukan dia yang dulu sabar terhadapmu (in case, it's me) justru sekarang kamu harus bisa bersabar terhadapnya. And I did it almost well. Seperti api yang butuh air untuk dipadamkan, seperti kompor yang butuh gas untuk dinyalakan, aku ingin melengkapi seseorang yang aku sayangi satu sama lain, dan orang itu kamu. Aku menyadari bahwa, "Oh, ternyata menjalin hubungan itu tidak mudah, ya?" membawaku kepada kenyataan bahwa memang benar kalau menjalin dan menjalani sebuah hubungan itu tidak hanya berdasar pada saling suka tetapi harus diperkuat dengan banyak hal. Selama apapun hubungan terjalin tidak tentu semuanya selalu berjalan mulus dan jika dihadapkan di situasi yang seperti itu, mau tidak mau, suka tidak suka, harus ada satu di antara dua orang yang mengalah, yang menggunakan logika dibanding dengan hati, dan yang memakai romantis untuk mengembalikan suasana hati.

quote, love, and couple image

Aku lambat-laun mengerti bahwa semua orang bisa berubah, baik hati maupun fisik. Seperti aku yang dulu pendiam dan tidak secerewet sekarang (meskipun masih tetap pendiam, perempuan tidak bisa diam hehehe). Dalamnya lautan bisa diukur tapi dalam hati manusia? Tidak ada yang tahu. Tapi, tidak bagiku yang tahu perubahan sikap dan sifatmu sekarang itu karena apa. Iya, itu karena aku, karena luka yang aku hunuskan di hati dan tubuhmu pada waktu itu, saat aku masih belum mengerti bahwa kamu begitu berarti (it sounds ew but it's true) hingga pada akhirnya.... aku menyadari bahwa luka yang dulu kamu rasakan itu seperti ini ya rasanya, bahkan aku masih ingat betapa aku rela melukai diriku sendiri, membiarkan egoku menari-nari dan menguasai tubuhku, karenamu. Bagiku itu adalah sebuah penyesalan namun sebuah waktu yang sangat berarti karena tidak bisa ditukar dengan rupiah sepeserpun, terlebih lagi hal tersebut adalah perasaan/ cinta. Mana bisa ditukar dengan rupiah? Bisanya dilengkapi dengan berbagai hal yang salah satunya adalah rupiah.
Man, pain changes people.
Selama beberapa waktu aku berpikir apa yang harus aku lakukan untuk membawamu, kamu yang sekarang, kembali di sini sekarang juga? Apa yang harus aku perjuangkan lagi agar aku bisa bersamamu? Kamu, kamu, kamu, dan kamu.

"Kamu ini, seperti tidak ada  hal lain saja yang bisa kamu pikirkan. Kenapa selalu dia sih?" 

"Karena kamu belum tahu bagaimana rasanya menemukan orang yang benar-benar melengkapimu. Bahkan dengan berkata I love you saja, ia mampu membuatmu gugup dan bahagia walaupun sudah bertahun-tahun lamanya ia bersamamu dan berkata hal yang sama seperti itu berkali-kali."
zac efron, love, and 17 again image

Berulang kali aku mencoba membangunkan macan yang sedang tidur, namun gagal. Aku merasa gagal. Hingga pada akhirnya, aku bertanya pada diriku sendiri, "Kamu tega melihat orang yang kamu sayangi menderita? Apa sih yang kamu harapkan sebenarnya? Bahagia? Yang bahagia itu kamu kan? Pikirkan lagi apa yang harus kamu lakukan. Terimalah!". 

Aku merasa bahwa selama ini aku mengecewakanmu, menuntut hal-hal kecil yang membuatmu jengah padaku, dan selama ini aku masih belum bisa menerima hal yang sudah sepantasnya aku terima, yaitu kehilanganmu. Mungkin saat itu aku masih bisa berjalan bersamamu tapi semakin hari aku kehilangan genggaman tanganmu saat berjalan dan akhirnya aku tidak bisa lagi melihatmu di jarak jangkau kedua bola mataku.

Sampai di suatu titik di mana aku harus bisa menerima bahwa tidak ada lagi kamu sebagai seseorang yang memberiku hati seperti Romeo kepada Juliet. Seperti seorang gadis kecil yang sedang menulis tentang diary, curahan hati yang tidak siapapun orang tahu kecuali dirinya sendiri dan Tuhan (karena Ia memiliki mata di mana saja), itulah perumpamaan yang aku berikan terhadapmu. Kamu akan tetap ada untukku dengan peranmu yang lain begitu juga denganku, kamu juga akan tetap ada di dalam buku diary yang aku tulis menggunakan tinta dan bahasa hati.

book, flowers, and bed image

Aku menyadari bahwa aku harus bisa melepaskan seseorang yang aku sayang agar dia bahagia, punya cerita yang lebih indah, bahkan bisa tersenyum seperti dulu lagi. Aku tidak akan munafik bahwa memiliki orang yang kau kasihi tidak ada bahagia bersamamu itu tidak membuatku bahagia tapi setelah aku berusaha untuk berpikir jauh lebih dalam dan lebih rasional lagi, aku senang melihatnya tersenyum dan melakukan banyak hal lain bersama orang barunya. Aku selalu mendoakan yang terbaik juga kebahagiaan selalu melingkupinya agar ia tidak lagi terlalu banyak memikul beban dan menumpahkan air mata karena ujian hidupnya selama ini.

Kekecewaan itu menguatkan.

Aku belajar dari kamu banyak sekali, salah satunya bahwa kekecewaan itu menguatkan pribadi seseorang dan keikhlasan itu mendewasakan. Melihat kamu selama ini struggle dengan banyak hal; yang salah satunya aku, membuatku terbebas dari ego yang menenggelamkanku bahwa jika memang kau menyayangi seseorang kamu harus rela sakit karenanya di samping membuat dia bahagia. Aku tidak beranjak pergi ke manapun, masih tetap di sini melihat kamu perlahan pergi menjauh menjemput kebahagiaan. Jauh di belakangmu, aku terus mendorongmu melaju dengan doa dan aku berharap senyuman selalu ada terbingkai di wajahmu. Mungkin aku hanya bisa melihatmu dengan potret wajahmu yang tersimpan dalam dompetku setiap aku merasa rindu terlalu menghanyutkanku. Namun jika kita berjodoh dan dikembalikan kembali, aku rasa itu adalah kita yang baru.

17 again, gif, and love image

"Walaupun setiap hubungan akan berakhir, entah berakhir bahagia atau pahit. Jangan pernah menyesal.
Karena semuanya tidak bisa diulang dan diperbaiki di masa lalu.
Setidaknya kamu pernah mencintai dengan tulus walau tidak berakhir mulus.
Setidaknya pernah berusaha walaupun disepelekan
Setidaknya paham tentang komitmen bersama untuk saling bertahan dalam kondisi sulit
Setidaknya setia pada suatu pilihan dengan segala pertanggungjawaban, entah meninggalkan atau memilih bertahan
Hingga akhirnya suatu hari sadar mungkin kamu memang pantas untuk dapat yang lebih baik, entah orang yang lebih baik atau cerita yang lebih baik
Bukan yang sempurna, karena ketika kamu mencari yang sempurna kamu akan kehilangan yang terbaik
Dan mungkin suatu saat, entah kapan, ada bagian yang sadar bahwa ada yang telah merasa kehilangan
Baiknya, jadilah orang yang berkualitas, yang bisa memberi arti dalam suatu hubungan yang mampu memberi kenangan, yang mampu bangkit ketika harus jatuh berkali-kali, yang mampu memaafkan secara perlahan atau bahkan yang dengan ikhlas memberikan kesempatan kedua (jika ditakdirkan)
Bukan hanya yang memberi atau meninggalkan luka pahit, serta berfikir ini cuma "cinta monyet" , atau cuma permainan yang ga perlu dibawa serius. Kamu yakin?
Karena kita tidak tahu setelah kamu menyakitinya, apakah setelah semua yang terjadi dia masih orang yang sama.
Because a broken heart is what changes people.
(November, 2014)"
-Sabrina

Sunday, January 10, 2016

Jadi........

Jadi jam 19:19......

Aku selalu suka banget liatin jam kembar, dari dulu sampe sekarang. Dulu aku sering banget ngasih tahu orang yang lagi aku sms/chat kalo kebetulan jamnya kembar. Salah satunya kamu. Hehehe. Kamu lagi ya beberapa hari ini postingnya? Iya. Itu karena aku lagi......tebak aja sendiri isinya apa. 

Jujur aja sih, ngga tau kenapa pas ngomong, 'aku rindu banget tau ga sih sama kamuuuuuu' (yah akhirnya aku juga yang kasih tau isi titik-titiknya--) rada sedikit ih lebay juga, ya. Kadang malah aku ngga mau ngomong, paling cuma kode-kode doang, tapi akhirnya juga dipaksa ngomong sama kamu--. Kebiasaanmu tuh, suka banget nanyain aku kangen apa nggak dan jawabannya harus jujur. Kalopun nggak jujur, pasti kamu tahu aku lagi boong hihihi. Tapi pas ditanyain, 'sayang kangen aku nggak?' Jawabannya 'nggak. Biasa aja.' ..... Makasih lo ya--

Tuesday, November 24, 2015

Oh Dear...

Baby...
If loving you is the hardest thing to do so far, can you say to me? can you hold my hand? can you kiss my cheek, just to make me know that I can hold on and stay, as far as you're still here, with you..


:)

the inspiration of this post

Sunday, September 20, 2015

Happy Graduation!

Selamat selamat selamaaat wisuda, buat mas2&mbak2 UNAIR, terlebih lagi FKM. 


Happy graduation!!!!


Selamat wisuda juga buat masku yang uda gede tapi masih kaya anak kecil aja tingkahnya, yang uda ngasih banyak pelajaran, uda sering banget ngeluangin waktunya buat dengerin keluh kesahku, yang sering banget jadi badut dan ngelawak walaupun itu tengah malem (sempet-sempetnya....).

Aku ngga sempet ngasih apa-apa buat kamu, fotopun ngga sempet (malu pek masa minta foto padahal ngga bawa apa-apa), pas uda mau ngumpul buat ngasih surprise eh akunya uda pulang. Akhirnya, pas 4 tahun, yaaa. Akhirnya uda ngga lelah lagi kuliah, tapi bakal lelah cari kerja wkwk. 

Sedih, tau kamu uda ngga di kampus lagi, padahal ketemupun jarang banget. Tapi bahagia, akhirnya bisa lulus tepat waktu & siap buat kerja. Jangan lupa sama aku, yaaaa. Semoga sukses dan kalo uda sukses jangan lupa sama adek2nya, ya, mas Ais... I know kamu ngga bakal ngeliat ini post, but somehow makasih banyaaaaak sudah jadi kakak yang baik. Semoga, aku nyusulin kamu, pas 4 tahun, yaaaa... Aamiin.

yah...... Nggak ikutan foto....

Wednesday, September 16, 2015

Missing You Cant Bring You Back

Ini tentang bagaimana seseorang merindukan seseorang lainnya di dunia yang sama, beratapkan langit yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama, namun.... 

sudah
tak lagi
bersama

Friday, May 22, 2015

Last Meet

Finally... This is the day, the last day we meet.
Selalu, sebelum pergi ada aja yang diributin. But somehow I was just that happy. 

Ngambek...
Rasanya pengen ngambek aja ngga tau kenapa.
But you know? I did it!!!!! Yeash.
Walaupun pengen nabok rasanya, pengen teriakin orang-orang di jalanan karena saking terlalu marahnya, tapi mindsetku berkata, udah... Nangis aja, palingan juga ntaran uda baikan lagi elu nya, ya kan? 
InsyaAllah sih begitu😊

This is ((maybe)) the last time I write something about 'my another lost soul'. Thank you for the last 3 weeks.
Sampai nggak bisa banget bilang 'met tinggal' karena uda terlanjur rontok banget ini hati hahaha.
These 3 weeks are so amazing & I couldn't forget.


With the bæby❤️ the last photo we took.
Goodbye dude, may the wind and the God damn universe telling both of us that we're this close yet so far but we're alright. 
Aku ngga mau nyampein apa-apa deh, percuma. P e r c u m a. 
Dah... Males bahas. 
Segitu aja...
Bye...

Saturday, April 25, 2015

Danau Terakhir

Aku ingat... 


Terakhir kali kita bertemu...
Iya, di sana...
Di sebuah danau, yang kau sebut sebagai danau cinta.