I’ve seen you smiled
I’ve seen you laughed
You cried
You’re angry
You shouted
You yelled
You're happy
I have seen all of your emotions
I have seen you loved me
The way you looked at me
The way you treated me
From one day you were really loved me and afraid if I was slipped away
To one day you didn’t love me at all
I have seen you treated me good,
treated me bad,
loved me so bad,
and cheated on me,
said you didn't love me,
then broke me up
I have seen you from you were skinny until you think you’re fat.
But I didn’t mind at all.
I still loved you, through whatever happened between us.
From tears to tears
From kisses to kisses
From miles away until we’re this close
I still looked at you like our first met
But now I know,
Whatever I did
Never brings you back
I hope you find what you’ve been searching for
I hope you could love them as much as they love you
And I hope they could bring you happy tears like what I did to you once upon a time
Showing posts with label Misery. Show all posts
Showing posts with label Misery. Show all posts
Saturday, December 7, 2019
Friday, November 29, 2019
2 Years, Ago
Today was two years since we’re together
The day I chose you
The day that I knew you’re the one I’m looking for
The day that I fell in love with you
no doubt
Today, I’d still waiting for you
Waiting for you to come back
Waiting those days, two years ago, would happen again
Waiting for you to finally open your heart for me
But
That won’t happen
Right?
You’d never stayed
You’d never loved me unconditionally
You’d never held me tight
Because you finally choose to let me go
You say your love’s expired
And you fall for another
I know
I’m not a hot girl
I’m just a mess
I’m ugly
But anyway, thank you for letting me know
I still choose you, over and over
Unconditionally
Even you have something to hide
Even you are a mess
I wish someday, you know, I love you inside out
I wish you have a happy life
I wish, you would remember this day like I do
I wish, this day will be the day that you’d never forget
That we decided to be together
Or maybe it was just me that decided to choose you
Wednesday, November 27, 2019
Midnight Wishes
I hope someday you know that
You know that I love you that much
You know that I do it because my feelings are true
pure
sure
I hope, when you’re finally realize, it really touches your heart
your deepest heart
your darkest room
your smallest part of the heart
that long time ago, you said that I’d already took your heart
I wish I finally don’t use any effort to proof you anything
I wish you could open your arms and let me in
I wish you let me go inside your heart
I wish, you could finally love me, unconditionally
love me and don’t take me for granted
love me and treat like you’re afraid to lose me
love me like every second is worth to spend together
Maybe it’s not me that you’d searching for
Maybe it’s not me that could touch your heart
Maybe, it’s all my faults
Letting you go has never been easy
But I take it
I finally realize, you’d never wanted me
The eyes that I look deep into it right now
Is not the eyes that I had look
The hands, the smells, the heartbeating
Aren’t there anymore
It’s okay
The last time I saw you
was the last time I want to say goodbye
I still want to chase you
But, I know that now, you’re not wait for me to hold my hands anymore
It makes me sad
But, it’s you
The one that I loved from the very first start
The person that I’ve been searching for
The person that still makes my heart breaks
and my tears are rolling down my face
I wish, someday, you will finally realize
I wish that day would come
Even though I know, I am just wishing something that never happens
:)
Monday, November 4, 2019
Kebiasaan yang Hilang
Sesuatu yang paling sering aku temui setiap malam adalah aku merindukan kebiasaan mengobrol denganmu setiap akan tidur. Membicarakan apapun, mulai dari semut yang memenangkan pertandingan dan mengalahkan gajah hingga apakah nantinya akan ada neraka atau surga setelah kita meninggalkan dunia. Tidak tertebak arah pembicaraan kita, bahkan tidak tertebak juga berapa lama waktu yang kita habiskan di balik sambungan telepon karena yang aku tahu, aku selalu senang mengetahui aku dapat membuatmu tertidur dengan perbincangan yang aku buat sendiri sebagai pengantar tidurmu. Kadang aku hanya meracau tanpa arah dan kamu membenci itu. Lalu aku mengalihkan ke topik lain yang entahlah, aku juga tidak mengerti dari mana ide untuk membicarakan topik tersebut melintas dan keluar melewati mulutku. Saat aku tidak mendengarkan suaramu untuk menghentikanku, aku tahu di situ kamu sudah tertidur. Aku tersenyum di balik sambungan telepon. Bahkan tidak jarang aku mengucapkan lirih bahwa aku mencintaimu, selalu. Tidak berhenti di situ, aku selalu menyampaikan bahwa aku beruntung menjalin hubungan denganmu dan tidak pernah sabar untuk bertemu denganmu.
"Jangan berubah ya, sayang. Aku tahu kalau kamu nggak denger aku tapi aku yakin, alam bawah sadarmu denger aku. Aku kangen nih... Jangan nakal, ya. I love you hihihi."
Hari berikutnya, aku kembali menyadari bahwa ada yang hilang setelah kebiasaan berbincang sebelum tidur, yakni ketukan pintumu di setiap pagi untuk menyapaku. Aku masih ingat betapa dulu kamu sangat bersikeras ingin aku mengetuk pintu setiap pagi bahkan ketika aku tidak mengucapkannya, kamu selalu marah. Entah kenapa, setiap mengingatnya terasa sesak meskipun sedikit memberikan senyuman tipis di bibirku. Ketika aku menyadari bahwa mengucapkan selamat pagi kepadamu mulai menjadi gangguan, aku selalu menunggu kehadiranmu terlebih dahulu, entah itu hanya untuk menanyakan sudah makan, meminta untuk diingatkan membawa ini dan itu, ataupun hanya sekedar mengeluh bahwa harinya berat ataupun sebaliknya dan tentunya, aku mulai mengurangi intensitas mengetuk pintu hingga akhirnya, aku benar-benar berhenti melakukannya. Dalam hitungan detik, menit, jam, hari, hingga minggu, aku kehilangan balasan darimu. Perlahan kamu menghilang dan menyisakan kenangan yang terlalu pahit untuk diingat. Kalaupun aku berkata aku kuat, ya aku memang kuat. Tapi aku hanya berbohong, mengelabui air mata yang turun deras menyambut begitu banyak kenangan yang terlintas di dalam ingatan. Ketika seseorang membutuhkan pelukan dari seseorang untuk menguatkan, ketika memelukmu, aku hanya berharap rapuh ini bisa kembali utuh namun sayangnya, isakku terlalu kuat, dadaku terlalu sesak, cengkeramanku terlalu lemah hingga aku tidak bisa membuatmu kembali.
Aku lemah, bukan berarti aku kalah
Pergi bukan berarti aku tidak sedih
Namun bertahan tidak memberikan jalan keluar yang sepadan
Seandainya kamu masih ingat untuk tidak melihat rumput tetangga, katamu
Aku berhenti melihatnya dan belajar menanam tumbuhan di taman sendiri
Tetapi justru kamu yang merusaknya dan membiarkan aku menanam sendiri
Aku kira kamu benar adanya tentang perasaan yang kamu punya
Tetapi aku salah
If I'm honest, I'd call, but I'm trying to let go
And I hope you're happy, livin' life in taxis
Friday, February 22, 2019
Aku pernah melihat kamu dengan tatapan mata berbinar-binar. Terang tapi menghangatkan. Hatiku berdebar, perutku sakit seperti kebiasaan banyak orang merasakan nervous dan mendadak ada serangan perut. Lucu ya? Padahal aku sudah setua ini juga, ternyata masih saja merasakan yang seringkali anak-anak remaja rasakan. Sepertinya, memang cinta tidak mengenal usia. Begitu juga jarak usia yang terpaut antara kamu dan aku yang mengajarkan begitu besar makna sabar untuk menghadapi apapun, salah satunya kamu. Walaupun usia kita berdua tidak begitu terpaut jauh sekali, tapi banyak hal yang akhirnya aku pelajari, bahkan sampai detik aku menulis ini sekalipun.
Aku terhenti ketika menulis ini. Melihat jendela penghubung ruangan luar dan dalam ruang kerjaku. Menghela napas dan mencoba untuk memikirkan beberapa hal yang terlintas dan hilang begitu saja. Terlihat sosok dengan mata sayu di sana, terdiam, tersenyum, lalu menundukkan pandangannya. Itu refleksiku, bukan sih? Aku tertawa kecil melihatnya terdiam di hadapanku. Nampaknya.... Ada hal yang ia ingin katakan namun tidak bisa karena tertahan sesuatu yang begitu berat.
Mungkin memang benar, manusia bisa bergerak, dinamis, berubah. Pemikiran, perasaan, tingkah laku, bahkan perlakuan, even itu terhadap orang yang sudah ia kenal dari lama. Dan, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang tidak terpikirkan untuk terjadi, justru terjadi. Kaget, tercengang, dan tentunya jika itu perlakuan atau suatu yang negatif, aku kecewa. Benarkah hanya aku yang boleh kecewa terhadap semuanya yang kamu lakukan? Sepertinya tidak. Tentu kamu juga boleh merasakan kecewa seperti yang aku rasakan. Hanya saja.... Apa yang kamu ucapkan, yang kamu lakukan, tidak tertebak, menghantarkan aku menitikkan air mata. Kadang, tanpa kamu ketahui, air mata yang begitu deras membawaku meneriakkan kata-kata tanpa suara. Kadang seusainya, aku membuat diriku sendiri terlelap karena.... untuk menemuimu, menyelesaikan hal yang belum selesai, jarang pernah terjadi karena kamu seringkali menghindar.

Aku bertanya-tanya, seberapa banyak salah dan hal bodoh yang aku lakukan sehingga membuatmu seringkali mengucapkan hal-hal yang membuatku terheran-heran, seperti layaknya aku ini musuhmu, tidak kamu kenali. Tak jarang juga aku memikirkan perilakuku yang selalu melampaui batasmu dan maaf yang seringkali aku ucapkan. Tapi, dari mulutmu sendiri aku akhirnya banyak menyadari, mungkin kita memang sudah jalan di arah yang berbeda. Mungkinkah? Memang di balik sini, aku selalu saja merindukanmu, ingin bertemu, terlalu bucin, ingin bercerita banyak hal, tapi.... nampaknya berbenturan denganmu yang sibuk, ingin bebas, sendiri, tidak ingin terkekang. Then, I think I lost you in a good way.
Mataku selalu sayu melihatmu karena arah pandanganmu tidak lagi berbinar ketika melihatku, mungkin. Hahaha, jujur ketika aku memberikan pandangan sedih, aku hanya berharap kamu memanjakanku, entah dengan apapun itu perlakuan yang akan kamu berikan. Tapi, seringnya aku hanya mendapat sentakan-sentakan dan pada akhirnya aku hanya menggelayut manja tanpa kamu mengarahkan pandanganmu padaku.
Apakah pada akhirnya kita berdua harus saling merelakan?
Karena jujur saja, dengan kamu aku merasakan bahagia dan sedih, terlebih lagi aku sering memimpikan orang itu adalah kamu. Tapi, mungkin semuanya sudah berubah, ya?
Aku terhenti ketika menulis ini. Melihat jendela penghubung ruangan luar dan dalam ruang kerjaku. Menghela napas dan mencoba untuk memikirkan beberapa hal yang terlintas dan hilang begitu saja. Terlihat sosok dengan mata sayu di sana, terdiam, tersenyum, lalu menundukkan pandangannya. Itu refleksiku, bukan sih? Aku tertawa kecil melihatnya terdiam di hadapanku. Nampaknya.... Ada hal yang ia ingin katakan namun tidak bisa karena tertahan sesuatu yang begitu berat.
Mungkin memang benar, manusia bisa bergerak, dinamis, berubah. Pemikiran, perasaan, tingkah laku, bahkan perlakuan, even itu terhadap orang yang sudah ia kenal dari lama. Dan, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang tidak terpikirkan untuk terjadi, justru terjadi. Kaget, tercengang, dan tentunya jika itu perlakuan atau suatu yang negatif, aku kecewa. Benarkah hanya aku yang boleh kecewa terhadap semuanya yang kamu lakukan? Sepertinya tidak. Tentu kamu juga boleh merasakan kecewa seperti yang aku rasakan. Hanya saja.... Apa yang kamu ucapkan, yang kamu lakukan, tidak tertebak, menghantarkan aku menitikkan air mata. Kadang, tanpa kamu ketahui, air mata yang begitu deras membawaku meneriakkan kata-kata tanpa suara. Kadang seusainya, aku membuat diriku sendiri terlelap karena.... untuk menemuimu, menyelesaikan hal yang belum selesai, jarang pernah terjadi karena kamu seringkali menghindar.

Aku bertanya-tanya, seberapa banyak salah dan hal bodoh yang aku lakukan sehingga membuatmu seringkali mengucapkan hal-hal yang membuatku terheran-heran, seperti layaknya aku ini musuhmu, tidak kamu kenali. Tak jarang juga aku memikirkan perilakuku yang selalu melampaui batasmu dan maaf yang seringkali aku ucapkan. Tapi, dari mulutmu sendiri aku akhirnya banyak menyadari, mungkin kita memang sudah jalan di arah yang berbeda. Mungkinkah? Memang di balik sini, aku selalu saja merindukanmu, ingin bertemu, terlalu bucin, ingin bercerita banyak hal, tapi.... nampaknya berbenturan denganmu yang sibuk, ingin bebas, sendiri, tidak ingin terkekang. Then, I think I lost you in a good way.
Mataku selalu sayu melihatmu karena arah pandanganmu tidak lagi berbinar ketika melihatku, mungkin. Hahaha, jujur ketika aku memberikan pandangan sedih, aku hanya berharap kamu memanjakanku, entah dengan apapun itu perlakuan yang akan kamu berikan. Tapi, seringnya aku hanya mendapat sentakan-sentakan dan pada akhirnya aku hanya menggelayut manja tanpa kamu mengarahkan pandanganmu padaku.
Apakah pada akhirnya kita berdua harus saling merelakan?
Karena jujur saja, dengan kamu aku merasakan bahagia dan sedih, terlebih lagi aku sering memimpikan orang itu adalah kamu. Tapi, mungkin semuanya sudah berubah, ya?
Thursday, September 27, 2018
Rusak
Tidak, belum kau sentuh.
Sudah, ternyata semua kau rusak.
Terbalik, berbalik.
Kau, menari.
Aku, menangis
Wednesday, September 26, 2018
Sunday, September 23, 2018
Kukira
Kau kata hanya teman
Namun ternyata makin dekat saja gan
Kau kata tidak jatuh
Ternyata makin jauh
Kau bilang tidak akan
Ah... Mungkin itu hanya ucapan
Sementara, nyatanya kau akan berpacaran
Wednesday, September 5, 2018
Kau kira hanya kau yang merasakan?
Kau kira hanya kau yang ingin?
Kau kira hanya kau yang depresi?
Kau kira hanya kau yang sedih?
Kau kira hanya kau?
Kau kira hanya kau yang ingin?
Kau kira hanya kau yang depresi?
Kau kira hanya kau yang sedih?
Kau kira hanya kau?
Kau lupa ada aku juga?
Kau lupa aku di sini sama sepertimu?
Kau lupa bahwa aku juga menghadapinya?
Kau lupa kalau kau tidak sendirian?
Dan kau lupa berapa kali banyaknya salah yang kau tudingkan padaku?
Kau lupa kalau kau tidak sendirian?
Dan kau lupa berapa kali banyaknya salah yang kau tudingkan padaku?
Jujur, menulis ini membuat hatiku hancur berkeping-keping. Terkesan seperti hiperbola, berlebihan, lebay, atau apalah itu yang selalu kau ucapkan padaku. Tapi sejujurnya memang itu yang aku rasakan. Sepertinya kau buta, kau tidak sadar, kau lupa, kalau aku juga merasakannya dan posisi kita sama. Seakan-akan hanya kau yang mengangkat Bumi sendirian padahal? Tidak. Semakin hari, aku tidak mengenalmu, bahkan aku menaruh ragu padamu, pada kita. Mengapa? Kau punya jawabannya, aku tidak akan menyebutnya karena aku lelah harus mengucapnya berulang-ulang kali seakan kau tidak pernah melakukannya. Melihatmu berkali-kali menghindari berkomunikasi denganku, membuatku semakin bertanya-tanya, apa aku hanya menjadi pengganti fitur reminder yang ada di ponselmu? Bahkan ketika melihatmu akhirnya memperoleh kebebasan yang kau inginkan, aku menghindarimu, aku berpura-pura tidak melihatmu, hingga aku memutuskan untuk mematikan ponselku lalu tidur hanya untuk membuatmu mendapatkan yang kau inginkan. Jikalau ini terjadi terus-menerus, biarkan aku menyelamatkan diriku sendiri dan tinggallah kamu dengan kebebasanmu, aku tidak akan mengusiknya lagi.
Saturday, June 2, 2018
Ketika Aku Harus Menunggu
Aku tidak pernah berani menanyakan kabarmu ketika kau sedang diselimuti amarah. Aku takut, aku diam saja, aku memendam. Aku ingin menyapamu dan menanyakan, ‘Bisakah kita bicara?’ Atau ‘Kau kenapa? Boleh aku hibur?’
Tapi aku terlalu takut sehingga yang ada hanya... ‘Baiklah, maafkan aku.’
Kalau kau tanya atau orang lain tanya, mengapa aku harus meminta maaf? Apakah aku salah? Apakah aku terlalu merendah? Ataukah aku terlalu bodoh untuk mengerti bahwa terkadang itu bukan salahku? Jawabannya selalu tidak. Aku tidak salah, aku benar. Aku tidak merendah, aku seimbang. Aku tidak bodoh untuk tahu bahwa itu salahku, aku cermat. Tapi semua tidak serumit itu, ini sederhana. Sangat amat sederhana. Lalu jika kau bertanya mengapa aku selalu mengalah, kalah, menyerah, itu bukan karena aku tidak bisa. Aku sangat bisa melawanmu, memakimu, menamparmu, atau hal lain yang (mungkin) kau ingin aku untuk lakukan. Tapi ini, seperti kataku, sangat amat sederhana. Bahwa sederhananya, aku tidak mau terjadi keributan yang benar-benar merusak karena siapa sangka, hal kecil nantinya bisa jadi besar dan merusak sedangkan seharusnya hal itu bisa ditutup dan diobati agar tidak menjalar melebar.
Sampai sekarang pun, aku terkadang hanya memandangimu, menunggumu di balik layar, seakan-akan hanya aku sendiri yang merasa sepi, padahal mungkin kau juga begitu. Berulang kali kuhapus dan kuketik tulisan di kolom percakapan kita karena aku terlalu takut. Apa sebaiknya aku memberimu ruang untuk bernafas? Ah... Mungkin lebih baik begitu. Tidak apa, aku di sini baik saja dan masih sama, aku menunggumu. Kamu tidak tahu dan mungkin tidak merasa, bahwa menunggu itu tidak pernah enak sehingga aku membencinya. Tapi untukmu, sayangnya, aku lakukan. Memang susah dan berat menjadi orang yang selalu menanti.
![]() |
| Source: Pinterest |
Friday, June 1, 2018
Maaf, Inilah Aku
Jika dipikir ulang, mungkin sebagian besar orang mengira bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa atau justru kamu menganggapku bahwa pekerjaanku hanya menunggu pesanmu datang dan sesegera mungkin membalasnya dengan hitungan sepersekian detik dari kau membalas pesan. Oh, memang iya. Memang aku sedang menantikan pesanmu itu dan terburu-buru untuk membalasnya sehingga kamu mungkin mengira bahwa aku sedang menjadi seorang pengangguran. Dari mana kamu tahu bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa? Dari mana kamu menebak bahwa aktifitas yang aku lakukan hanyalah menunggu pesanmu untuk datang agar aku bisa segera membalasnya? Coba jawab, dari mana kamu tahu itu semua? Kalau saja aku tidak mengatakan aku sedang apa hanya untuk sekedar basa-basi, mungkin kamu tidak akan pernah mengetahui kegiatanku yang sebenarnya seperti apa, dan tentunya perkataan "Lagi apa?" darimu hanya sebatas obrolan ringan yang membosankan. Maaf sayang, kamu keliru. Justru aku selalu menunggunya, ya.... meskipun obrolan itu bagimu hanya sampah percakapan dua orang manusia tapi sesungguhnya, bagiku tidak.
Aku menunggu pesanmu datang, selalu. Terburu-burulah aku ketika tahu bahwa namamu muncul di kolom pemberitahuan. Sesenang itulah aku seperti anak kecil mendapatkan hadiah ulang tahun yang ingin sekali ia buka dengan segera. Kamu tidak tahu dan tidak akan pernah tahu rasanya seperti apa, mungkin. Bahkan terkadang aku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang begitu kencangnya saat mengetahui bahwa itu adalah kamu. Hal itu juga berlaku pula ketika nada dering pemberitahuan ponselku berbunyi yang kukira adalah kamu, nyatanya? Bukan kamu. Seperti pesawat yang melesat begitu kencangnya ke Bumi ketika sedang mengalami kecelakaan, jatuh, luka, kehilangan keseimbangan. Kadang aku merasa terejek saja ketika tahu kamu menertawakan aku yang seolah-olah menjadi budak cinta karena menunggu kamu dan merasa hampa pabila tidak ada kabar darimu. Apakah aku sebodoh itu? Maaf, aku tidak mau munafik hanya karena aku ingin diakui pintar ataupun kuat tetapi aku menutupi bahwa aku memang menunggu dan mencarimu jika kamu benar-benar tidak ada kabar.
Sekarang ini, hal itu sedang terjadi. Aku menunggumu. Hampir setiap detik atau menit, aku bisa merasakan sesak rasanya dadaku ketika mengetahui kabarmu tak kunjung datang. Maaf, inilah aku. Aku yang mungkin kamu anggap berlebihan dan tidak punya hal lain untuk dipikirkan juga dilakukan.
Sunday, June 11, 2017
I fall in love with you
And I think, I always will
'tho we're never be one again
Even the death will tears us apart
Even...
We'll never meet each other again
But I'm that pretty optimistic
God ties us that tight
'till I could even breathe while with you
Until I clearly don't see anybody else but you
You're so close yet so far
I can't even hold you in my arms
But I do...
I do hold you in my prayers
All the gratitudes were sent to you
For teaching me what love looks like
For being the angel that God's sent to me
For being my long lost soul that I've been searching for
And for keeping me in your smallest room inside your heart
Sunday, May 28, 2017
I Am
I may not be the one
who you call every time you feel down and high
Also not the one
who you think and pop-out on your mind
And not the one
who will makes your heart beats faster
while you see, text, or call
'cause I'm the one
who causing you pain
makes you angry all the time
never ever knowing you
also put you on high temper
But deep down...
My heart still wishing
You know these two minds,
you will be the only one
who'll makes all the dreams come true
the one who'll be my someone to go to
until I put my body down to the Earth
Sunday, May 14, 2017
Song(s) Between Us
Lagu
Darimu aku dapat mendengar hatimu
Lewatmu, suaramu dapat ku rasakan menyentuh hatiku
Asalmu, membuatku semakin jatuh
Mendengarmu, tak mampu bila tak merindu
Meskipun dirimu harus kuulang tanpa henti
Keliru bila aku merasa bosan
Tidak
Sebaliknya, aku makin merindunya
Darimu aku dapat mendengar hatimu
Lewatmu, suaramu dapat ku rasakan menyentuh hatiku
Asalmu, membuatku semakin jatuh
Mendengarmu, tak mampu bila tak merindu
Meskipun dirimu harus kuulang tanpa henti
Keliru bila aku merasa bosan
Tidak
Sebaliknya, aku makin merindunya
Sunday, May 7, 2017
Ia
Setelah berusaha membuka, merapihkan, menghapus yang tidak perlu, dan menata ulang.... Ternyata tidak habis di situ saja usaha yang telah dilakukan selama ini untuk tetap membiarkan "ia" singgah di tempat awal. Memilih untuk meninggalkannya di sana apakah sebuah kesalahan? Tidak. Meskipun luka yang diberi begitu terasa, dalamnya goresan belati juga sangat dalam dan berbekas, bahkan senyum yang ditinggalkan terakhir kali masih terbingkai indah di memori, tidak akan pilihan ini disebut sebagai sebuah kesalahan tapi lebih sebagai sebuah kaca untuk jiwa yang selalu nampak lalu menghilang setelahnya dan terjadi berulang-ulang kali sekalipun sudah sekian waktu tidak ada merpati yang datang dan singgah untuk memberikan kumpulan surat yang kerap kali ku beri judul "Nyawa dan Harapan".
Seandainya ia tahu bahwa pergi yang kumaksudkan adalah tinggal dan benci yang kukatakan adalah sayang, mungkin tidak akan pernah ada yang namanya sebuah pembelajaran bahwa ada kalanya sesuatu yang pergi tetap tinggal, membekas, dan memberi kesan indah berselimut pahit yang benar kenyataannya ketika dihadapkan dengan sebuah pertemuan, akan ada perpisahan yang berarti, entah itu untuk sejenak atau selamanya.
Pernah aku berpikir, apakah foto yang usang akan bisa kembali mengulang kejadian itu pada masanya? Apakah bimbang yang diberikan ketika mengingat kejadian pada sepucuk kertas dan juga beberapa kertas foto dapat memecah rasa sedih seseorang dan menggantikannya dengan senyum? Apakah selamanya yang ia sebutkan dapat terulang lagi oleh suara parau dari bibir seseorang yang selama ini dirindukan? Dan apakah hal itu dapat membawanya kembali?
Ia kerap hadir di keduanya, mimpi dan kenyataan (yang memberi pahit bahwa ia tak lagi ada di sini, bersamaku). Teman yang selama ini dirindukan kehadirannya memberi degup jantung pada jantung yang lemah, juga sesosok sahabat jiwa yang dinantikan untuk kelulusan sebuah gelar selamanya. Penantian tidak pernah sebentar, untuk itu terkadang beberapa orang membencinya. Pelabuhan tidak pernah sepi untuk laut yang ramai, untuk itu seringkali kapal-kapal hanya datang bersinggah sebentar. Tetapi pemakaman menjadi tempat yang sepi karena hampir setiap kali, manusia datang untuk menguburkan perasaannya terkait sepucuk cinta dan sebuah rahasia yang harus ia benamkan dari dunia agar tersisa banyak kebahagiaan dari sedikit hal yang harus "ditidurkan". Dan memang, hampir setiap nyawa mempunyai cinta dan rahasia yang tidak ia katakan dan ungkapkan meskipun hati juga perasaannya terluka, tapi setidaknya hanya dirinyalah yang merasakan perih.
Bicara soal cinta dan rahasia, sudah setahun setengah lamanya semenjak pertemuan yang memerahkan jantung dan pipiku meskipun lampu kota terlihat temaram nyalanya. Pertemuan yang memberikan sebuah bulir-bulir bahagia di dalam sebuah lingkaran kecil. Tidak pernah terduga bahwa hiruk-pikuk orang berlarian untuk berteduh dari hujan justru membawaku berlarian di tengahnya sembari menyenandungkan cinta dan rahasia di dalam gemuruh suara langit dan lampu kilat panggung semesta.
Saturday, April 1, 2017
He said, I'm cute
Does the heart still keep him?
Even hate is the best thing he could remember from me,
also no wonder when, still.
I said, he's so lovely
The eyes never lie
while the tongue keeps on telling it
There's no love left, right?
and the heart's had empty since no wonder when
Stand, stay, and strong
are just about reminiscing we're only strangers again
Yellow of the stars
makes me wonder, where's my favorite scars?
Even the season's changing
and the people's fading away
We're still under the same sky
which are guarded by the One who's holding the breath
Afraid to meet
agreed to let everything goes
Holding the pieces of mine which still left
also the word that never told
Does the heart still keep him?
Even hate is the best thing he could remember from me,
also no wonder when, still.
There's sadness attached
to some endings that no beginning
can erase -Z, N
Thursday, March 23, 2017
I was stupid,
he was selfish.
I was twenty,
he was twenty four.
I was lost,
he was lust.
I was love,
he was not.
He gave me something,
I gave him everything.
It was 2011 something late,
now 2017 something late.
It's been years,
I keep wanders.
I can't go back,
my mind keeps flashing back.
I was young,
he was done.
I fell deep,
he slept deep.
I want him,
he wanted more.
I ran away,
he yelled.
I went back,
he stopped.
Well played,
I said.
You're mine,
he said.
I'm not,
I mad.
You are,
he screamed.
I fell again,
so hard.
He left me,
to pain.
I was twenty,
he was twenty four.
I was stupid,
I was indeed.
he was selfish.
I was twenty,
he was twenty four.
I was lost,
he was lust.
I was love,
he was not.
He gave me something,
I gave him everything.
It was 2011 something late,
now 2017 something late.
It's been years,
I keep wanders.
I can't go back,
my mind keeps flashing back.
I was young,
he was done.
I fell deep,
he slept deep.
I want him,
he wanted more.
I ran away,
he yelled.
I went back,
he stopped.
Well played,
I said.
You're mine,
he said.
I'm not,
I mad.
You are,
he screamed.
I fell again,
so hard.
He left me,
to pain.
I was twenty,
he was twenty four.
I was stupid,
I was indeed.
Thursday, March 9, 2017
#17 Tanya
Kalau rintik saja tidak berhenti menghujani
Apakah asa dan rindu yang terbendung tidak akan kian mendobrak?
Jika memeluk saja susah untuk dilakukan
Bagaimana dengan bercakap dan senda gurau yang kurindukan?
Masih adakah? Atau telah hilangkah?
Kata sang tanya
Monday, January 23, 2017
Sunday, December 11, 2016
Ajari Aku Cara Melupakan Perasaan Ini
Sendiri dalam fikirku
Terkurung ruang dan waktu
Melihat setiap kata terucap dari mulutmu
Berharap ada tentangku istimewa di matamu
Tapi hanya dirinya yang ada dalam kalimatmu
Tak mungkin ada aku di antara kau dan dia
Seperti lagu-lagu cinta di dunia
Tolong aku yang kini tak bisa kikiskan wajahmu, tatapmu, harummu
Ajariku cara lupakan semua tentang dirimu, dirimu, dirimu
Karna ku tak bisa sendiri
Subscribe to:
Posts (Atom)
