Thursday, June 9, 2016

Kenapa Dia Lagi?

Kepada seseorang yang, bagiku, selalu melantukan begitu banyak senandung paling indah untuk ku dengar. 

Maybe a little throw back will hurt, for me, and it won't for you.



Throwback

Aku kembali melompat ke masa itu, masa dimana aku dipertemukan dengan seseorang yang saat itu mampu membuat aku sedikit tertarik dengannya, walaupun jika dilihat-lihat, dia memang tidak setampan sekarang, tapi entahlah.... Aku tidak begitu mengerti, kenapa orang ini mampu menarik perhatianku. Lucunya, hanya berawal dari sebuah foto, aku tidak mengira bahwa orang tersebut mampu memberi makna di dalam hati dan hidupku, sejauh ini.

Entah mengapa, dia selalu menjadi bahanku mencari inspirasi, walaupun tidak sepenuhnya dia menginspirasiku. Hanya saja rasa campur aduk bersamanya, membekas sekali meskipun menyayat hati. Berawal dari lagu, film, buku, tempat makan, dan banyak lagi, namun berakhir di kenangan. Katanya, "Aku tidak pernah berfikir kita akan berakhir." Tapi nyatanya? Memang tidak berakhir, namun menjadi seperti ini yang tidak tahu kemana ujungnya akan bermuara. Kepada pembuktian keseriusan ataukah hanya lenturnya kata-kata yang mampu menelan mentah-mentah sang waktu.
Semakin aku bertanya, semakin aku tidak mengerti. Semakin aku diam, semakin aku terluka dalam rindu. Mungkin memang aku ini terbilang labil, atau keras kepala. Tapi entah kenapa, sekeras apapun dia menancapkan pedang dalam tubuhku, tidak berefek apa-apa, sekalipun mengeluarkan darah, namun aku masih bisa tersenyum padanya. Seperti rasa sabarku itu mati satu tumbuh seribu padanya. 

Semua bertanya, kenapa sih, kenapa sih, kenapa sih? Disaat semua menanyakan seperti itu padaku, aku hanya terdiam dan menanyakan hal sama kepada diriku sendiri. Iya, kenapa? Aku juga tidak bisa mengerti jelasnya, karena itu tadi, semakin aku bertanya, semakin aku tidak mengerti, bukannya aku menjadi mengerti namun kebalikannya.

Aku tidak merasakan ada pada masa PDKT, tidak juga ada kata-kata romantis yang lebay dari mulutnya, tidak ada acara tembak-menembak yang direncanakan, bahkan aku pun sempat membencinya. Semua mengalir begitu saja, aku menjadi siapa diriku sebenarnya, begitu juga dia. Dia orang pertama yang mampu meletakkan effort begitu besar padaku yang tidak ada apa-apanya dibanding perempuan yang pernah ada di hidupnya, sebelum aku. Herannya, dia adalah seseorang yang mampu mencintai orang sepertiku, berdasar pada kekuranganku. Ketika aku melihatnya, diriku seperti sedang bercermin, dan bayangan pada cermin itu adalah dia. 

Hahaha... Sepertinya aku mulai merindukannya kembali setelah sekian lama hal itu terkubur dan berusaha untuk aku kubur. Wajar kan? Tapi biarlah, toh juga tidak mengubah apapun, bukan begitu?

Satu dari sekian alasan mengapa aku begitu mencintai musik, yaitu adalah dia.


Ku melintas pada satu masaKetika ku menemukan cintaSaat itu kehadiranmuMemberi arti bagi hidupku
Meskipun bila saat iniKita sudah tak bersama lagiAda satu yang ku rinduKehangatan cinta dalam pelukanmu
Biarkan aku melukiskan bayangmukarena semua mungkin akan sirnaBagai rembulan sebelum fajar tibakau selalu ada walau tersimpandi relung hati terdalam
Biarkan aku melukiskan bayangmukarena semua mungkin akan sirnaBagai rembulan sebelum fajar tibakau selalu ada walau tersimpandi relung hati terdalam
Biarkan aku melukiskan bayangmukarena semua mungkin akan sirnabagai rembulan sebelum fajar tibakau selalu ada, walau tersimpan di dasar jiwamuSelalu kusimpandi relung hati terdalam

No comments:

Post a Comment