Tuesday, October 25, 2016

Bibir ini enggan berkata bahwa raganya sedang mengeluh sakit
Lelah yang dirasa, selalu tak berani ia utarakan
Dinikmatinya sendiri walaupun perhatian seoranglah yang ia harapkan
Tapi ia enggan...
Dan senyumlah yang selalu ia tunjukkan di balik jutaan rasa yang terkubur

Walau hanya seucap, ia selalu patah arah
Menenggelamkan dirinya ke dalam pusara harapan yang ia buat
Menanti untuk diselamatkan
Meski ialah yang selama ini menjadi penyelamat dirinya sendiri
Selalu

Bibir hanya berani terkulai layu di balik topeng besinya
Berbisik lirih pada rasa, agar tidak lagi ada
Membunuh waktu demi penantian yang hampa
Dan berkata tolong kepada logikanya sendiri
Untuk menyelamatkannya

No comments:

Post a Comment