Otakku mencoba untuk melakukan proses mencerna setiap petunjuk yang tertera. Aku mengaduk-aduk memori seperti sup hangat yang enggan untuk kumakan karena memang sedang tidak nafsu. Coba saja kau duduk di hadapanku untuk menyuapkan sup hangat tersebut. Mungkin rasa dari sendokan tersebut akan terasa berbeda dibandingkan dengan saat kumenyantapnya sendiri. Sayangnya kau sedang tidak berada di hadapanku, kau berlarian entah kemana, aku tak tahu. Aku berusaha untuk menolak memori yang menyedihkan seperti saat aku menolak untuk menyuapkan sup tadi ke dalam mulutku, tapi aku tidak bisa, karena aku harus. Iya, karena aku butuh. Aku butuh memori itu untuk melanjutkan kita, seperti aku butuh sendokan sup tadi agar aku bisa tetap meneruskan kegiatan tanpa harus merasakan kelaparan.
Setiap memori yang kucoba panggil, aku menemui sedih, tawa, air mata, bahkan luka. Aku takut sayang, aku benar-benar takut. Tahukah kau akan hal itu? Oh, ayolah, kita bukan arena bermain yang selalu kau mainkan ketika sedang bosan dan akan kau tinggalkan ketika kau semakin bosan. Aku terkadang merasa berjalan sendiri tanpa ada kau di sebelahku. Setiap malam aku hampir menangisimu hanya karena aku rindu dan tentunya aku takut. Salahkah? Aku ingin meminta maaf apabila memang itu salah di matamu tapi bagiku, aku tidak salah. Kau tahu kan kadang manusia memang egois dan aku rasa, saat ini aku sedang egois untuk memilikimu.
Itu dia! Aku sudah menemukan jawabannya. Aku telah menelusuri setiap kepingan petunjuk di tiap-tiap cabang jalan yang menghadangku untuk menggapaimu dan aku menemukan hasil dari kepingan petunjuk yang telah kucoba untuk kususun. Asal kau tahu, aku melakukan semuanya tanpa bantuanmu karena kau saat itu sedang pergi meninggalkanku untuk belajar sendiri, memilih sendiri jalan mana yang harus kulalui, dan pastinya untuk mandiri di kehidupan yang (kau bilang) cukup keras ini, bukan begitu?
Aku telah sampai! Aku telah menemukanmu untuk kuajak berjalan kembali. Aku.... Ah! Sial! Aku menangis kembali, sayang. Patutkah aku meminta maaf karena aku telah menjadi seorang yang cengeng? Mungkin itu harus kulakukan karena aku masih memilihmu, aku masih memilih untuk bertahan pada kita. Ya.... meskipun kau tidak pernah suka ketika aku harus meminta maaf berulang kali tapi bagiku, tak apa. Kali ini, kau mau berjalan kembali denganku? Gandeng tanganku sekarang juga! Iya, sekarang juga, kau yang keras kepala!
Aku tidak tahu sudah berapa banyak kalimat menyerah telah aku ucapkan sampai-sampai kau bosan dibuatnya. Tapi kali ini aku memilih untuk bertahan, sama seperti yang kau lakukan selama ini, iya bukan? Hei, mungkin aku sudah gila untuk bertahan tapi, jelas itu karena kau yang membuatku gila.

No comments:
Post a Comment