Aku tidak pernah berani menanyakan kabarmu ketika kau sedang diselimuti amarah. Aku takut, aku diam saja, aku memendam. Aku ingin menyapamu dan menanyakan, ‘Bisakah kita bicara?’ Atau ‘Kau kenapa? Boleh aku hibur?’
Tapi aku terlalu takut sehingga yang ada hanya... ‘Baiklah, maafkan aku.’
Kalau kau tanya atau orang lain tanya, mengapa aku harus meminta maaf? Apakah aku salah? Apakah aku terlalu merendah? Ataukah aku terlalu bodoh untuk mengerti bahwa terkadang itu bukan salahku? Jawabannya selalu tidak. Aku tidak salah, aku benar. Aku tidak merendah, aku seimbang. Aku tidak bodoh untuk tahu bahwa itu salahku, aku cermat. Tapi semua tidak serumit itu, ini sederhana. Sangat amat sederhana. Lalu jika kau bertanya mengapa aku selalu mengalah, kalah, menyerah, itu bukan karena aku tidak bisa. Aku sangat bisa melawanmu, memakimu, menamparmu, atau hal lain yang (mungkin) kau ingin aku untuk lakukan. Tapi ini, seperti kataku, sangat amat sederhana. Bahwa sederhananya, aku tidak mau terjadi keributan yang benar-benar merusak karena siapa sangka, hal kecil nantinya bisa jadi besar dan merusak sedangkan seharusnya hal itu bisa ditutup dan diobati agar tidak menjalar melebar.
Sampai sekarang pun, aku terkadang hanya memandangimu, menunggumu di balik layar, seakan-akan hanya aku sendiri yang merasa sepi, padahal mungkin kau juga begitu. Berulang kali kuhapus dan kuketik tulisan di kolom percakapan kita karena aku terlalu takut. Apa sebaiknya aku memberimu ruang untuk bernafas? Ah... Mungkin lebih baik begitu. Tidak apa, aku di sini baik saja dan masih sama, aku menunggumu. Kamu tidak tahu dan mungkin tidak merasa, bahwa menunggu itu tidak pernah enak sehingga aku membencinya. Tapi untukmu, sayangnya, aku lakukan. Memang susah dan berat menjadi orang yang selalu menanti.
![]() |
| Source: Pinterest |

No comments:
Post a Comment