Saturday, April 25, 2015

Danau Terakhir

Aku ingat... 


Terakhir kali kita bertemu...
Iya, di sana...
Di sebuah danau, yang kau sebut sebagai danau cinta.


Aku juga ingat...
Saat di danau itu, kita memakai baju yang sama
Maksudku, sama-sama memakai kemeja.
Warnanya juga sama, seperti 'saat itu' kita saling berkata dan menentukan pakaian yang akan kita kenakan.
Iya, saat itu....
Aku memakai baju berwarna putih & kamu memakai baju berwarna biru. 
Betapa sejuk dan damainya danau ini, iya bukan?
Ada banyak bebek berbaris serta berenang, ditemani dengan sayup-sayup angin menyibak dahan juga menyentuh kulit kita berdua.
Sinar mentari saat itu tidak seberapa terik.

Kau tahu...
Aku menunggumu yang tidak tepat waktu hingga berjalan memutari danau cinta, sambil mengusap peluh dan air mata karena menunggu kau yang tak kunjung datang. Ku kira, kau tidak serius, hingga aku berpikir bahwa...
"Ah sudahlah... Apa aku pulang saja?"
Tapi ternyata kau muncul juga...
Aku berpikiran bahwa, mungkin kau membawa sebouquet bunga, atau membawa segenggam balon...
Tapi itu hanya angan seorang yang gila, ya... akulah seorang yang gila itu.


Oh...
Tahukah kau?
Ingatkah kau?
Mungkin memoriku untuk mengingat sesuatu secara detail dan terperinci memang tidak bagus, tapi aku ingat...
Saat terakhir kali kita masih rukun & aku tahu sampai saat ini kita masih rukun tentunya, di mana waktu itu aku dan kamu mempunyai keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang indah, di situ kau ingin mengucapkan sesuatu yang ingin kau utarakan tentunya & itulah perasaanmu yang sesungguhnya, karena aku tau dari seseorang bahwa di tempat itu, di keinginan yang gila itu, di saat kau mengatakan sesuatu, hal itu akan abadi, setidaknya siapapun pasti percaya mitos kan? Dan aku adalah salah satunya yang, ya.... lumayan percaya. 
Aku tahu dan kau juga mengakui kalau daya ingatmu tak sebagus dan sebriliant einstein ataupun aku, dalam beberapa hal tentunya, tapi kau selalu tertawa dengan senyum ramahmu hingga tersirat bahwa... ya... 'Sayang, aku tidak ingat itu seperti kau mengingat hal2 detail apapun itu. Tapi aku tidak memungkiri dan tidak marah jika kau berkata seperti itu, karena kekuranganku, setidaknya aku memilikimu sebagai penyempurnanya' setidaknya aku memakluminya&aku tidak marah juga karenanya. Kurangku&kurangmu, tidaklah sama... Namun kita sudah berusaha saling melegkapi, bukan? Dan... Aku akui, aku sempurna disaat bersamamu. Bagaimana denganmu? 

Kembali kepada mitos...
Aku mengingatnya, tentu saja, dan aku tau mungkin kau melewatkannya, bahwa kita sudah melengkapi keinginan gila kita saat itu. 
Sadarkah, sewaktu itu aku memintamu untuk memakai baju biru & kau memintaku dengan busana putih yang nantinya ku kenakan sewaktu kita bertemu 'di sana' nanti, di pantai itu... Membawa keinginan masing2... Tentunya keinginan ini tidak tersampaikan, tapi aku faham maksudnya & mungkin kau juga faham perasaanku di saat melihatmu, di mana dengan melihatmu saja aku tak kuasa menahan senyum serta ketika melihatmu pergi aku tak kuasa menahan air mata. 
Ingin rasanya aku memelukmu, mengatakan 'tinggallah... Kau rumahku, tempatku berlabuh, pelabuhan tempatku singgah, dan temaram lampu yang benderang dan hangat ketika aku hilang arah juga kedinginan' tapi aku tidak kuasa dan aku hanya menganggukan kepala tanda mengiyakan bahwa sebagai kodrat seorang perempuan yang menuruti perkataan lelaki walau sebagian tidak &  seorang yang tidak menganut keegoisan diri untuk melawan. 

Aku tahu... 
Tidak hanya ingat, bahwa cinta datang dengan indah, tunggu saja...
Begitu juga dengan kehadiranmu, selalu membawa keindahan tersendiri untukku.
Begitukah aku terhadapmu?
Aku tidak yakin...
Namun...
Terima kasih telah memenuhi hari-hariku yang indah dan kau adalah salah satu yang terindah yang kumiliki. 
Mungkin kita akan bertemu lagi dengan waktu dan keadaan yang indah, suatu hari nanti. 
Satu, dua, tiga, empat tahun lagi, entah kapan... 
Kau masih akan tersimpan 'di sini', di hati. 
Seperti yang pernah kau bilang,
'Walaupun akan ada seorang yang menggantikan, entah itu lebih indah atau sama atau lebih buruk. Kau masih akan tersimpan di sini, di hati. Dan terima kasib kau telah menikahi hatiku, walaupun tidak dengan memilikiku'

Ps: oh dude please... Aku bukan penulis ulung yang handal tapi kisah cerita yang aku tulis ini, membuatku meneteskan air mata saat membacanya. 

No comments:

Post a Comment