Aku terhenti ketika menulis ini. Melihat jendela penghubung ruangan luar dan dalam ruang kerjaku. Menghela napas dan mencoba untuk memikirkan beberapa hal yang terlintas dan hilang begitu saja. Terlihat sosok dengan mata sayu di sana, terdiam, tersenyum, lalu menundukkan pandangannya. Itu refleksiku, bukan sih? Aku tertawa kecil melihatnya terdiam di hadapanku. Nampaknya.... Ada hal yang ia ingin katakan namun tidak bisa karena tertahan sesuatu yang begitu berat.
Mungkin memang benar, manusia bisa bergerak, dinamis, berubah. Pemikiran, perasaan, tingkah laku, bahkan perlakuan, even itu terhadap orang yang sudah ia kenal dari lama. Dan, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang tidak terpikirkan untuk terjadi, justru terjadi. Kaget, tercengang, dan tentunya jika itu perlakuan atau suatu yang negatif, aku kecewa. Benarkah hanya aku yang boleh kecewa terhadap semuanya yang kamu lakukan? Sepertinya tidak. Tentu kamu juga boleh merasakan kecewa seperti yang aku rasakan. Hanya saja.... Apa yang kamu ucapkan, yang kamu lakukan, tidak tertebak, menghantarkan aku menitikkan air mata. Kadang, tanpa kamu ketahui, air mata yang begitu deras membawaku meneriakkan kata-kata tanpa suara. Kadang seusainya, aku membuat diriku sendiri terlelap karena.... untuk menemuimu, menyelesaikan hal yang belum selesai, jarang pernah terjadi karena kamu seringkali menghindar.

Aku bertanya-tanya, seberapa banyak salah dan hal bodoh yang aku lakukan sehingga membuatmu seringkali mengucapkan hal-hal yang membuatku terheran-heran, seperti layaknya aku ini musuhmu, tidak kamu kenali. Tak jarang juga aku memikirkan perilakuku yang selalu melampaui batasmu dan maaf yang seringkali aku ucapkan. Tapi, dari mulutmu sendiri aku akhirnya banyak menyadari, mungkin kita memang sudah jalan di arah yang berbeda. Mungkinkah? Memang di balik sini, aku selalu saja merindukanmu, ingin bertemu, terlalu bucin, ingin bercerita banyak hal, tapi.... nampaknya berbenturan denganmu yang sibuk, ingin bebas, sendiri, tidak ingin terkekang. Then, I think I lost you in a good way.
Mataku selalu sayu melihatmu karena arah pandanganmu tidak lagi berbinar ketika melihatku, mungkin. Hahaha, jujur ketika aku memberikan pandangan sedih, aku hanya berharap kamu memanjakanku, entah dengan apapun itu perlakuan yang akan kamu berikan. Tapi, seringnya aku hanya mendapat sentakan-sentakan dan pada akhirnya aku hanya menggelayut manja tanpa kamu mengarahkan pandanganmu padaku.
Apakah pada akhirnya kita berdua harus saling merelakan?
Karena jujur saja, dengan kamu aku merasakan bahagia dan sedih, terlebih lagi aku sering memimpikan orang itu adalah kamu. Tapi, mungkin semuanya sudah berubah, ya?
No comments:
Post a Comment