Kapan kamu berniat untuk pulang? Ketika aku selalu di sini menunggu kamu untuk pulang, kamu tak kunjung datang. Padahal pintu sudah aku pastikan tidak terkunci, jadi ketika kamu tiba-tiba saja masuk, kamu tidak perlu marah karena pintunya sudah aku kunci. Tapi ternyata kamu juga tak kunjung pulang. Meskipun aku lihat dari balik tirai jendela yang bersebelahan dengan pintu, bayangmu tidak kunjung terlihat dari jarak pandang mataku. Ponsel yang biasanya tertahan mati dan sepi untukku, kini sudah tidak bisa aku jangkau lagi. Apakah sinyal ponselmu tidak ada? Apakah ponselku yang saat ini rusak? Kupastikan berkali-kali bahwa ponselku baik-baik saja dengan me-restart-nya, namun ternyata memang benar, kamu tidak ada di balik layar ini lagi. Kamu kemana?
Sudah sekian lama, kamu tidak kunjung kembali. Aku hanya bisa duduk di depan teras rumah ketika sedang senggang hanya untuk menantimu pulang. Memastikan ketika kamu menginjakan kaki di pelataran rumah, kamu telah disambut olehku. Memastikan aku bisa membawakan barang yang terpaut di lenganmu, bahumu, atau yang sedang kamu genggam saat itu. Memastikan bahwa, lelah yang kamu bawa pulang, akan hilang sebagian karena melihatku. Memastikan, bahwa kamu memang pulang. Pulang ke rumah ini.
Nyatanya saat kutunggu, dari detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, minggu, berganti bulan.... Kamu belum kunjung kembali. Senyum semangat ketika menantikan kehadiranmu, berganti senyum semu yang tetap berharap bahwa kamu akan kembali pulang nantinya. Iya, suatu saat nanti yang aku tidak tahu kapan akan terjadi. Senyuman yang harusnya membawa ke air mata bahagia, namun harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa berkali-kali, air mata kesedihanlah yang justru turun dari mataku yang terus melihat kehadiranmu dari kejauhan yang tidak kunjung terjadi. Bahkan terkadang, potret dirimu dan aku yang sedang bersanding, seringkali kujadikan bayangan kamu yang sedang melangkah maju mendekati rumah. Kekonyolan tadi membawaku pada tetes-tetes air mata dengan diiringi jeritan tanpa suara. Suara yang harusnya kukeluarkan untuk menyambutmu, kini tertahan. Tidak di dunia, di ponselmu pun... aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Mungkin, memang kamu tidak akan kembali lagi. Mungkin, yang kulihat selama ini kembali hanyalah kenangan saat kamu dan aku masih bersama.
No comments:
Post a Comment