Nada dering yang keluar dari ponsel pun, aku mengira itu adalah pemberitahuan darimu. Aku selalu melihat ponsel meskipun layar dalam keadaan mati. Bahkan kulakukan hingga kepalaku terasa pusing.
Degup jantungku selalu kencang ketika layar itu menyala karena aku beranggapan bahwa itu datang darimu.
Tapi setelah aku sadari, itu dulu.
Dulu, selalu ada kabar darimu, pesan maupun panggilan. Meskipun jauh, aku selalu merasa dekat. Tapi semakin ke sini, lambat laun, aku seperti sendiri.
Kamu jarang datang lagi, tidak lagi memberi kabar, bahkan memintaku untuk mandiri dengan tidak bergantung dan mengusikmu karena.... semua punya kesibukan masing-masing, bahkan kamu merasa aku selama ini adalah penghambatmu. Ketika kata-kata itu keluar dari pikiranmu dan kau salurkan lewat jemarimu, aku tidak menyangka bahwa.... seburuk itu ya ternyata aku di matamu.
Aku mulai berjalan sendiri.
Berhenti perlahan-lahan memintamu memberi kabar atau mengurangi menghubungimu.
Pergi pun aku tidak pernah lagi ingin ijin karena tidak begitu penting buatmu, kurasa.
Kamu benci melihatku pergi sendiri, tetapi ketika aku meminta padamu untuk menemaniku, jawabmu hampir selalu sibuk dan enggan karena ribet.
Banyak cerita yang ingin kubagikan, tapi aku selalu menahan karena kamu yang banyak pikiran, sibuk, mengantuk, dan aku hanya bisa menyimpannya sendiri dan tersenyum di hadapanmu.
Perlahan, aku mulai menyadari bahwa aku mulai harus berhenti berlaku manja dan bersiap melakukan semua sendiri seperti biasanya.
Aku tidak pernah menggantungkan diriku kepada siapapun jika memang aku bisa melakukan semua sendiri.
Dan aku ingin menggantungkan sedikit diriku kepada orang yang kurasa, memang paling dekat denganku, saat ini.
Ternyata, aku salah.
Seharusnya, aku memang tetap tidak perlu merepotkan orang lain.
Aku kira, kamu sangat senang ketika aku meminta tolong atau apapun itu kepadamu karena, someone said that, "Ketika kamu ingin dianggap, gantungkanlah dirimu ke orang lain dengan meminta tolong ataupun bercerita."
Tapi kamu begitu siap dan rela melepasku melakukan semuanya sendirian tanpa ingin dilibatkan.
Baik, aku tidak akan memaksakan apapun terlalu jauh untukmu.
Berkembanglah tanpa terhambat.
Semua yang tersumbat dan terlambat, mungkin mengantarkan kita kepada tamat. Sayangnya aku memang terlalu sayang, teramat sangat.
Cepat atau lambat, semua akan kembali dengan cepat.
Mungkin saja di tangan yang tepat.
No more mornings and nights.
But prayers will hold you tight.
No more mornings and nights.
But prayers will hold you tight.
Based on real story
No comments:
Post a Comment